Total Tayangan Halaman

Senin, 11 Juli 2011

SEPI tanpa ACHI

ga kebayang 3 tahun ketemu cuma 1xsebulan ma dede' achi..aduuuhh..kenapa harus skull na ke sana saiank.......meskipun qt musuh dalam selimut..tapi ternyata ga' ada dia di home jadi bikin sedih....lagee apa yeah dia sekarang??? malah ga boleh bawa hp pula tuh...(sangad lah terkekang)
jadi kebayang n ngerasa kehilangna banged. padahal baru kemaren pisah ma dia.........asal tau ajah udah lebih dari 100 kalee manggil nama dia................biasa nya juga pisah seah..tapi beda..........dulu aq yang pigi...lah karang dia yang pigi.......aduh..wajah n mata elang na menari2 ngejek aq......................"iiiqqqhhh...lagee kangen geeneh masih jah ngajak brantem.........kaya' geneh ya rasa nya jaoh ma adek.......ko' dulu ga' kerasa yeah??????????..hhmmm skull yang rajin de'...inget pesen mama ma papa waktu itu..jangan kecewain mereka....I'll help u full with my power........

Kamis, 07 Juli 2011

menangis dalam senyum dan duka

setiap malam tuhan..setiap malam yang sunyi derai air mata ini selalu mengemis untuk tidak mengalir lagi...rasanya lelah dengan perih yang berkepanjangan, muak dengan sikap yang selalu tak pasti.tak pernah mampu aku menterjemahkan makna dari hidupku yang seperti layangan di udara. kadang ilang arah, kadang terasa gampang untuk menukik, kadang pula tak pernah bisa untuk lebih tinggi lagi. tapi hanya satu yang selalu menjadi tumpuan hidup..........."DO'A IBU"

Selasa, 05 Juli 2011

SURAT CINTA UNTUK MAMA

siapa orang yang sering kau kirimi surat cinta? kekasih mu, sahabat, atau kenalan yang secara tidak sengaja kau temui di jalan dan kalian saling berkirim surat cinta? kenapa tidak menulis surat cinta kepada ibumu?pasti ibu akan senang sekali membaca surat cinta yang kita tulis di secarik kertas. memuji dia, menyanjung namanya, sesekali beri dia kata-kata romantis yang membuat perut nya geli karna kekonyolan kita. tapi sebenarnya itu bukan suatu kekonyolan, justru itu suatu kemuliaan. untuk apa kita menyanjung seseorang dengan kata2 yang bagus, indah penuh dengan romansa, tapi kepada ibu sendiri kita tak pernah sekalipun mengatakannya. ibu tidak pernah meminta apapun dari kita para anaknya, selain meminta agar kita hidup bahagia. ibu tidak inginkan uang gaji kita yang melimpah, ibu tidak inginkan mobil kita yang mengkilat, justru ibu hanya meminta "do'a kan dia" ternyata seorang ibu itu memang sangat mulia. ibu akan selalu mengatakan "kenyang" kepada anaknya saat makanan hanya bisa di santap oleh satu orang maka ibu akan berkata "makan lah nak, ibu sudah kenyang" taukah kita perut ibu kita ternyata kosong. tapi ibu rela perutnya keroncongan asal anaknya bisa menikmati santapan hari itu. mulia sekali. atau mungkin seorang ibu akan selalu berkata " mukenah ibu masih bagus, jadi lebaran tahun ini, cukup kamu saja nak yang beli mukenah baru" taukah kita mukenah yang di katakan bagus oleh ibu tenyata sudah tidak layak lagi untuk di gunakan saat lebaran nanti. ibu..ibu..begitu besar pengorbananmu untuk kami anakmu. saat seorang anak kesakitan yang bisa meyembuhkan hanya tangan ajaib seorang ibu. di saat seorang anak kedinginan di malam buta hanya kehangatan tubuh ibu yang melindunginya. ibu tidak pernah mengeluh saat 9bulan 10hari membawa beban yang sangat berat di perutnya. tapi ibu tidak pernah mengeluh, bahkan dengan bangga ia memamerkan bentuk tubuhnya yang membengkak, ibu beli baju-baju lucu agar ia terlihat cantik(sangat indah terlihat seorang ibu yang sedang hamil), begitu lahir, taukah kita ibu menyabung nyawa dengan maut..hanya kekuatan ibu yang bisa menyelamatkan kita saat itu dan tentu karna tuhan sangat mencintai ibu kita. ibu aku sangat rindu padamu di setiap hari-hariku, begitu lama rasanya waktu berganti saat kau tak ada di sisiku. begitu sempit terasa dunia tanpa pemecahan masalah darimu, dan terasa gelap hidup ini tanpa cahaya indah darimu. surat cinta saja yang kita tulis untuk ibu, tuhan telah mengangkat derajat kita. tuhan telah melapangkan kubur ibu kita....
Ibu,.... dan inginku tulis surat cinta yang paliang romantis untukmu, surat cinta yang tiada duanya ibu, tak akan ada yang bisa menandingi kata-kata ku untuk memuja dan mencintamu setulus hatiku ibu.

kepada ibu tercinta,

 Ibu, kau mengenalku jauh sebelum aku mengenalmu, kau menyayangiku, jauh sebelum aku menyayangimu. Ibu, berapa kali engkau mengusap tubuhku, memandikanku di saat aku kecil, sungguh tak terhitung ibu, berapa kecupan yang kau hadiahkan dengan cuma-cuma di pipiku, berapa senyuman yang kau lontarkan di pipimu untuk melihat tumbuh kembangku, berapa kali bajumu kotor karna kotoranku, tapi kau tak pernah hiraukan itu. bandingkan lah ibu, 23tahun usiaku, belum sekalipun tangan ini mengusapkan sabun yang harum di tubuhmu yang indah, jarang sekali bibir ini mengecup lembut pipimu yang sudah sedikit berkeriput oleh usia. belum ada kebahagian yang berarti yang ku persembahkan padamu. tapi percaya lah ibu...terdalam dari lubuk hatiku yang dalam..kau cinta pertamaku...izinkan hanya hamamu yang menjadi penerang jalanku, do'akan aku di setiap sujutmu, karna hanya do'a mu yang berkenan untuk langkahku. do'aku selalu mesra untukmu ibu, wahai cinta pertama dan terakhirku..semoga allah selalu memberkati hari-hariku dan ibu. ibu izinkan aku mengatakan satu hal "aku mencintaimu sedalam apa yang kau tau ibu, dan aku tau cintamu sedalam apa yang tidakku ketahui..karna sebenarnya sayank mu lebih besar dibading sayangku padamu.....

wassalam ananda

lihatlah, begitu mudah menulis surat cinta untuk ibu. Ibu akan tersenyum dan ibu akan menghadiahi kecupan manis di pipimu......do'a ku untuk ibu semoga tuhan selalu memberikan kedamaian di hatinya, kesenangan di hidupnya, kemuliaan di setiap gerak nya. kami mencintaimu untuk kemuliaan...

Senin, 04 Juli 2011

tentang hidup

pernah kah ada berfikir tentang hidup yang sedang anda jalani saat sekarang ini? bahagia kah anda? tentramkah hidup anda? atau justru anda merasa tertekan oleh kehidupan yang membebani anda? setiap manusia memiliki jalannya masing2 bukan? belajar memaknai hidup itu yang terpenting. tapi saya cuma bisa bicara saja, toh dalam pelaksaan nya allahuallam sulit sekali.
cobaan dalam hidup itu pertanda tuhan sayang terhadap hamba nya, sebenarnya tuhan ingin mengurangi dosa kita. coba fikir, seandainya anda di beri kekayaan, memang setiap jum'at atau setiap saat anda menyumbangkan sebagian harta anda, tapi selalu di iringi kata-kata "ah bangunan itu, kalau tidak sumbangan dari saya, mana mungkin menjadi besar dan bagus seperti sekarang" lalu apa guna nya amalan sedekah itu?

Senin, 27 Juni 2011

mama I luph u

really make me dissapointed. u know!...everyone has like a oporturnity to be a great one! but what? I'm nope a lucky one. I've a family, but nope like a family. I've brother n sister but really really bad.. I'm just need a little luph...can I got it? I don't know pal..
but I really really luph them......especially my mom..she is a wonderful mommy, strong, and and great..I luph u mom.........................I'll be the best for U...

Rabu, 22 Juni 2011

keterbatasan

kadang keterbatasan juga bisa menghalangi keinginan kita. keinginan untuk maju, keinginan untuk mencapai sesuatu yang menjadi cita-cita kita, bahkan keinginan untuk menghirup udara kebebasan. keterbatasan juga akan menghalangi kreatifitas kita. keterbatasan memang sangat menyiksa. ingin rasanya terlepas dari kata-kata itu, tapi seperti nya memang sulit.
mungkin selama ini jika kita mendengar kata-kata keterbatasan pasti pikiran kita langsung tertuju pada seseorang yang cacat fisik atau mental. ternyata kita salah. kemiskinan, juga salah satu keterbatasan bagi seseorang untuk mencapai dan medapatkan apa yang ia inginkan. yeah, ironis memang, tapi siapa yang salah? mereka, atau kemiskinan mereka atau malah pemerintah yang tidak memperhatikan mereka? entah lah, hanya tuhan yang tau. kehidupan ini sebenarnya tak obahnya seperti rantai makanan/ bahkan rantai kehidupan.
Dunia(bumi)------->manusia------->kehidupan-------->kesempatan--------->pemimpin-------->rakyat---------kembali ke dunia. Semua yang telah di sediakan bumi di olah oleh manusia dengan cara menjalani kehidupan yang baik, productive dan yang pasti berguna satu sama lain. di dalam kehidupan bagaimana manusia itu mencari kesempatan dan dari kesempatan seseorang mampu untuk menjadi pemimpin dan sebagai pemimpin ciptakanlah kembali rakyat atau masyarakat yang productive dan berguna dan mereka lah kembali yang akan menata bumi. seperti itu lah siklus kehidupan yang sebenarnya. tapi bagaimana bila kesempatan itu tertutup bagi mereka yang miskin? disini lah masalahnya. bukankah pemimpin diangkat untuk mensejahterakan rakyat nya.sejahtera berarti tidak miskin bukan?

cerpen bagian 10

           RAIMA

 ”Raima” nama yang sangat indah, melekat pada seorang penyandang cacat seperti nya. Dengan wajah polos dan  cantik tidak membuat sosok seorang raima terlihat memiliki kekurangan. Lahir ketika hujan deras melanda, hingga mengakibatkan banjir bandang di sebuah dusun kecil di tepi pulau sumatra. Malang sungguh nasib gadis yang kini genap berusia 17 tahun itu. Tragedi itu mengakibatkan ayah dan ibu nya meninggal dunia. 2 jam sebelum terjadi tragedi itu, ibu raima di larikan ke rumah seorang bidan kampung yang berada lebih kurang 100meter dari rumah mereka. Ayah raima yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan itu dengan sangat berhati hati mendorong gerobak yang berisi istri tercinta yang sedang kesakitan menahan rasa sakit karna akan segera melahirkan bayi pertama mereka. Sesampai di rumah bidan, ia langsung melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik parasnya. Alangkah senang hati suami istri itu. Setelah lebih kurang 5 jam di rumah bidan, sang suami pamit setelah melihat sang istri sudah sedikit kuat untuk berjalan hingga ke luar rumah, dan segera pulang dengan sebuah gerobak tua yang sangat terlihat buruk.
Besok saja lah kembali ke rumah kalian, sepertinya hari mau hujan, langit terlihat berat.” Begitulah Bidan Asih menasehati ayah raima saat itu,
 ”Tidak apa apa buk bidan, lagian rumah kami kan tidak terlalu jauh dari sini.” Ayah raima yang sibuk membereskan pakayan ibu menolak ajakan ibu Bidan Asih.
Iya, tapi kalian harus melewati sungai di sana, bagaimana kau membawa anak mu yang merah ini, dan juga istri yang masih lemas ini?.” Kata Bidan Asih lagi sambil menunjuk kepada istri yang terlihat sangat kelelahan itu. Ayah raima tersenyum. Entah apa makna dari senyum nya itu.
”Ya sudah, berhati hatilah kalian menyeberangi sungai itu, langit berat sekali kelihatannya. Kalau rasa nya tidak mungkin untuk menyeberangi nya, kembali lah ke sini, besok pagi sekali ku antar kalian. ” Bidan Asih menawarkan sepasang suami istri itu sebuah pilihan.
Assalamualaikum buk bidan.” Balasan dari suami yang terkenal pendiam itu.
Mereka berjalan di malam yang terasa mencekam itu, entah kenapa mereka nekat ingin pulang malam itu juga, mungkinkah mereka tidak sabar ingin memberi tahukan para tetangga tetangga mereka tentang kedatangan malaikat kecil di rumah mereka?
Waalahhualam hanya mereka yang tau hingga kini, dan mungkin hingga nanti saat mereka bersatu lagi di syurga.
Pak seperti nya hujan mau turun pak, kita berhenti saja dulu pak, kasian bayi kita. ” Ibu sempat memberikan aba aba ke pada ayah raima saat itu.
”Tenang saja buk, sudah dekat, ibu tidur saja di situ,” Ayah menjawab kata kata ibu raima sambil mendorong gerobak tua yang di berikan kakek buyutnya itu.
Dalam seketika turun hujan di iringi gemuruh, petir, halilintar menyambar tak kenal ampun di sekitar mereka. Tapi entah apa yang ada di fikiran sepasang suami istri itu, mereka mneyeberangi sungai dengan aliran arus yang sangat deras dan semakin deras.
Ibu berpegangan ya.” Mungkin itu kata kata terakhir yang di ucapkan sang suami terhadap istrinya. Tanpa hitungan detik, sebuah pohon yang tumbang menyambar  jembatan gantung yang sudah lapuk itu, maklum jembatan itu adalah peninggalan penjajah tempo dulu. Jembatan ambruk seketika itu juga, anak beranak itu terjatuh ke dasar sungai yang deras, ke esokan harinya masyarakat sekitar baru menemukan tubuh suami istri itu tersangkut di batang pohon yang tumbang. Sementara anak mereka di temukan di atas rumpun dedaunan di dekat orang tua nya. Bayi itu langsung di larikan ke Rumah Sakit, setelah melewati masa kritis bayi itu selamat, sedang kedua orang tuanya tidak bisa di tolong. Namun sayang bayi yang akhirnya di rawat oleh bidan ASIH tidak bisa melihat, ia di vonis buta seumur hidup karna ketika peristiwa itu terjadi mata bayi yang belum bisa apa apa itu di penuhi oleh air hingga mengakibatkan matanya buta.  
Dua puluh tahun sudah peristiwa itu berlalu, sekarang bayi yang di beri nama RAIMA, yang merupakan nama dari ibunya sendiri, sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik.
 Bik Asih merawat dan membesarkan Raima tak obahnya seperti anaknya sendiri. Raima di sekolah kan di SLB, khusus untuk murid yang cacat termasuk buta seperti raima.
” Ima.................. ” Itu lah panggilan yang akrab di dengar raima bila ada yang memanggil diri nya.
”Tolong kamu ambil tempat penyiram bunga kita di dapur ya? ” Bik Asih meminta tolong ke pada anak angkatnya yang buta itu.
”Iya buk,” Raima adalah anak yang sangat rajin ia suka sekali menanam dan memelihara bunga, sama seperti almarhum ibunya yang juga menyukai tanaman. Raima terlihat keluar dari dapur dengan membawa tempat penyiraman bunga di tangannya. Ia langsung menyiram bunga bunga itu .
Memang raima adalah gadis yang istimewa, meskipun buta, ia bisa merasakan dan bisa tau jenis bunga yang ada di taman depan rumahnya itu. Bahkan semua jenis bunga yang ada di taman itu ia hafal jenis dan warna serta bentuknya.
Malam itu pukul satu dini hari raima terbangun dari tidurnya, ia bermimpi bertemu sepasang suami istri yang sepanjang malam membelai rambut dan menciumi pipi nya. Tak hanya malam itu malam malam berikutnya sepasang suami istri itu terus saja menyelinap di antara tidur raima.
Hingga suatu hari
Buk udah beberapa malam ini ima mimpi aneh trus buk,” raima mulai bercerita ke pada bik asih yang sedang mejalin rambut raima yang panjang terurai indah sebahu itu.
”Mimpi opo to ndok?” bik asih bertanya perihal mimpi aneh raima beberapa malam belakangan ini.
”Ima mimpi ada sepasang suami istri yang gagah dan cantik sekali buk, sepanjang malam mereka membelai rambut, dan menciumi pipi ima.” Raima menjelaskan perihal mimpi yang selalu membuatnya bertanya.
Ga cuma sekali buk, tapi setiap malam.” Raima menyambung ceritanya.
kira kira mereka siapa ya buk, kenapa selalu wajah mereka yang hadir di mimpi ima?”
Bik Asih menghela nafas panjang, seperti memikirkan sesuatu dan kembali melanjutkan menjalin rambut putri kesayangannya itu.
” Mimpi itukan bunga tidur ndok, kamu pasti tidak berdo’a menjelang tidur ya? ” Bik Asih mengalihkan pembicaraan.
Bik Asih berdiri dan langsung meninggalkan raima di kamarnya.
 ” Mungkin sudah saat nya raima tau, siapa diri nya.” Hati bik Asih berbisik sembari hati setengah nya lagi menolak karna takut raima akan sedih jika nanti ia tau nasib orang tuanya.
Seminggu kemudian, datang lah seorang ibu muda dengan seorang anak laki laki yang mungkin sebaya dengan raima. Mereka terlibat pembicaraan serius dengan Bik Asih di ruang tamu rumah yang berbentuk bangunan tua itu. Raima yang saat itu sedang berada di taman bunga miliknya sayup sayup sampai mendengar pembicaraan mereka. Tapi raima tidak mau mencampuri urusan ibuknya, ia sibuk menyirami kembang sepatu, mawar, dahlia, anggrek yang ada di taman miliknya itu.
Terlihat ibu muda itu meneteskan air mata melihat raima dari kejauhan, sedang anak laki laki yang berada di samping nya asyik menyaksikan raima dan sesekali tersenyum sendiri. Mereka pun pamit, terlihat sekali mereka berasal dari keluarga kaya, mengendarai honda jazz kuning mungkin mereka dari kota.
Aqh...apa yang harus aku lakukan, ” Bik Asih mondar mandir seperti orang kebingungan di kamarnya.
Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi,” bisiknya lagi. Tak terasa air mata berlinang di pipi perempuan tua itu, tanpa ia sadari ternyata raima sudah berada persis di hadapannya.
”Buk...ibuk kok menangis.” Raima bertanya sembari berlutut dan meraba wajah ibu yang sangat ia sayangi itu dan mengusap air matanya.
Eh...ima, sudah selesai menyiram tanamannya?” Bik Asih mengalihkan pembicaraan.
Mereka tadi siapa buk, apa mereka yang membuat ibuk meneteskan air mata?” raima bertanya perihal dua orang dari kota tadi yang membuat bik asih menangis.
Ah..itu teman bapakmu dulu, Cuma ingin silaturahmi ndok, ” Jawab bik asih sambil menahan air mata yang semakin deras tatkala membayangkan ia akan berpisah dari anak yang selama ini memberi warna indah di hari hari tuanya.
Dua minggu berikutnya orang dari kota yang memakai honda jazz kuning itu datang lagi ke rumah, ia menagih janji, tapi bik asih meminta waktu dua minggu lagi untuk memberanikan diri bercerita ke pada raima siapa dirinya sebenarnya. Dan perempuan itu mengizinkan.
Selesai shalat magrib bik asih memanggil raima yang saat itu sibuk bermain dengan putih kucing kesayangan nya. Bik asih memeluk putri semata wayang nya itu, Bik asih tidak memiliki anak, saat usia pernikahan nya dengan suaminya mencapai usia 6 bulan tuhan berkehendak lain, dalam sebuah kecelakaan kereta api di solo suami nya yang bekerja sebagai tukang pos tewas di tabrak kereta api. Sejak itu bik asih memutuskan untuk hidup sendiri, dan pidah ke pulau sumatera, dan mengabdi sebagai bidan kampung di sana. hingga akhirnya ia menemukan raima.
” Kenapa buk?” raima bertanya sembari tangan nya mencoba meraba dan mencari di mana letak pipi ibunya itu.
”Ima...sekarang kamu sudah dewasa nak, sudah saat nya kamu tau tentang satu kebenaran yang selama ini ibu simpan rapat – rapat. Tapi sekarang ibu harus menceritakannya.” Terdengar isak tangis bik asih sembari melepaskan pandangannya ke arah jendela yang pada saat itu masih terbuka lebar kendati sudah malam, bik asih memang selalu membiarkan jendelanya terbuka hingga menjelang jam 21.00 katanya biar rahmat tuhan tidak terputus hingga kita tertidur.
” Kebenaran apa buk, ayo buk cerita,” Raima mengguncang guncang tubuh tua renta itu.
”20 tahun yang lalu di desa kita ini terjadi peristiwa banjir bandang, dan di saat itu sepasang suami istri datang, ia melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan sehat, setelah proses kelahiran itu, sang suami langsung membawa istri nya yang masih layu pulang dengan menggunakan gerobak kayu yang sangat tua. Ibu sudah melarang mereka untuk tidak pulang malan itu, karna di luar langit sangat gelap, dan sepertinya akan ada badai, tapi dua suami istri itu tidak memperdulikan ucapan ibuk,” Bik asih menghela nafas panjang dan membelai rambut raima yang merebahkan kepalanya di pangkuan bik asih, dan melanjutkan cerianya.
” Selang beberapa saat pasca kepergian mereka, hujan, petir, halilintar sahut sahutan di luar rumah, ibu teringat dengan suami istri itu, tapi ibuk tidak bisa berbuat apa apa. Karna di luar badai sangat kencang. Ibu hanya berdo’a kepada tuhan semoga anak beranak itu selamat sampai ke tempat tinggal mereka. Tragedi itu mengakibatkan puluhan rumah yang berada di pelataran sungai roboh terseret air, begitu pun jembatan yang dulu menghubungkan desa kita dengan desa tetangga juga hancur di seret air. Dan keesokan harinya, masyarakat menemukan sepasang manusia telah menjadi mayat, dan dan bayi mereka yang tersangkut dalam keadaan kritis di atas sebuah dahan pohon. Bayi itu segera di larikan ke rumah sakit, sedang kedua orang tua nya tidak bisa tertolong. Beruntung nasib bayi itu meskipun ia harus menerima nasib bahwa mata nya buta total.” Bik Asih tidak melanjutkan kata katanya lagi, tak terasa air mata sahut sahutan berirama di mata mereka, raima tak kuasa menahan air mata tangis yang selama ini belum pernah ia keluarkan, begitupun bik asih yang semakin erat mendekap raima putri kesayangannya itu. Lama hanya suara tangis dan isakan yang terdengar di ruang yang sunyi itu.
” Lalu di mana makam kedua orang tua raima buk?” Raima mencoba bersuara meski tersendat sendat suara perempuan lembut itu mendayu.
”Sabar ya nak, sabar,” Bik Asih mencoba menenangkan meskipun jiwa nya juga sedikit tidak tenang.
” Besok pagi ibuk ajak kamu ke makam kedua orang tua kamu di kampung sebelah, karna sebenarnya di sanalah kampung mu nak.” Suara bik asih mencoba menegarkan hatinya dan hati putri tercintanya.
Malam yang sangat memilukan bagi raima, sepanjang malam ia hanya menangis, sambil mengingat mimpi nya akhir akhir ini.
”Mungkinkah mereka adalah orang tuaku,”Tanya nya dalam hati.
”Tuhan.....kenapa kau berikan cobaan yang teramat berat dalam hidupku tuhan?” raima berdo’a sambil mengangkat kedua tangan nya, sembari meneteskan air mata untuk kesekian kalinya pada hari ini.
”Raima..seperti janji ibuk, ibuk akan ajak kamu ke makam kedua orang tuamu, ayo mandi dulu,” Bik Asih membangunkan putrinya sembari membelai dan mencium kening raima.
Sesampai di desa tempat pemakaman orang tua raima,
Buk ibu ima, nama nya siapa buk,? Raima bertanya sambil meraba batu nisan kedua orang tuanya.
Nma ibuk kamu sama dengan nama kamu ndok.” Bikasih mencoba untuk tetap tegar di hadapan makam kedua orang tua raima.
Terlihat raima mulai meneteskan air mata nya lagi,
”Bk yang kasih nama raima, persis dengan nama orang tua ima buk?” raima kembali bertanya
”iya nak, malam itu ibu sempat mendengar ayah dan ibumu bercanda gurau ia ingin kamu di beri nama TITIAN PUTRI RAIMA ibu sendiri tidak tau makna dari nama itu ndok, maka ibuk panggil saja kamu dengan nama raima,” bik asih menjelaskan perihal asal nama raima sambil menatap langit yang sejuk dan tersenyum.
Raima berdo’a di hadapan makam kedua orang tuanya, di temani bik asih dan setelah itu mereka kembali ke rumah.
Satu minggu sudah peristiwa itu terjadi, setiap selesai shalat magrib bik asih selalu bercerita tentang pertemuan singkatnya dengan orang tua raima, terkadang raima terlihar tersenyum saat bik asih mengatakan kalau ayah raima sangat romantis. Dan ibu raima sangat cantik sama dengan wajah raima sekarang.
”buk meskipun gitu ibuk asih tetap orang tua ima kan buk?” raima bertanya perihal kasih sayang yang di berikan bik asih.
” iya, kamu tetap anak ibuk,” balas bik asih sambil mencubit hidung raima yang mancung itu.
Mereka pun tertawa.
tok..tok..tok...” terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
ibuk lihat dulu ya, siapa yang datang,” kata bik asih sembari berjalan ke luar kamar dan melihat siapa yang datang.
Terlihat dua orang yang sudah tidak asing lagi di mata bik asih, perempuan yang biasa di panggil MALA, dan anak laki laki nya BAYU. Bik asih mempersilahkan keduanya masuk
Mereka sangat serius membicarakan sesuatu, dan terlihat bayu sibut bercanda dengan putih kucing raima.
Tak sengaja raima mendengar ucapan ke dua ibuk ibuk itu dari kamar. Raima spontan keluar kamar
”ibuk jahat, ibuk pengen kasih ima sama orang lain, katanya ibuk sayang sama ima, tapi sekarang ibuk nyerahin ima sama ibuk ibuk itu.” raima berlari menuju pintu dan berlari sembari meraba raba dan menagis. Terlihat ketiga, bik asih_ buk mala,__ dan bayu mengejar raima.
Seketika itu ” brrakk......” terdengar dentuman keras di tepi jalan. Tubuh raima melayang satu meter ke angkasa dan jatuh tepat di atas mobil yang menabraknya itu, sekujur tubuhnya di lumuri darah segar yang sesekali menyembur dari mata, hidung, telinga
” raimaaaaaaa.............................. .” teriak bik asih dari kejauhan.
Dengan tergopoh gopoh perempuan tua itu berlari dan mendekap putrinya. Seketika itu juga raima di larikan ke rumah sakit terdekat karna pendarahan yang di alami raima sangat parah.
Satu minggu sudah raima tidak sadarkan diri di rumah sakit. Bik asih dengan setia menemani dan merawat putrinya itu, juga ibuk mala dan putra nya sesekali datang menjenguk raima.
”ibuk............” terdengar suara sayup sayup.
” raima..raima anak ibuk, kamu sudah sadar nak,” balas bik asih dengan hati sedikit senang dan mendekap raima.
” raima di mana buk?” raima melanjutkan bicara dengan suara yang serak dan terkadang hilang timbul itu.
” kamu di rumah sakit,” jawab bik asih menenangkan
”jangan banyak bicara dulu ya, ibu panggil dokter dulu,” balas bik asih dan berlalu meninggalkan raima
Di luar bik asih terlibat pembicaraan dengan seorang dokter, dan terlihat mereka kembali menuju kamar raima di ruangan anggrek o41.

”buk, apakah ibuk benar ingin menyerahkan raima ke pada saya? Mala mulai bercerita, karna bik asih sepertinya sudah bisa untuk di ajak bicara.
”mala, kamu sendiri kan tau, ibuk sudah tua, dan kamu juga sudah tau usia ibuk hanya tinggal menghitung hari, penyakit itu sepertinya tidak akan mengijinkan ibuk untuk berlama lama merawat raima. Saya tidak ingin raima tau hal ini, saya tidak mau dia merasa kehilangan lagi seperti ia kehilangan kedua orang tuanya. Setelah sembuh bawalah raima ke jakarta, rawat dia dengan baik seperti ibu merawat mu dulu.” bik asih menyampaikan amanat kepada mala yang sebenarnya juga memiliki nasib sama seperti raima. Saat mala berusia 6 bulan orang tua nya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Bik asih adalah orang yang merawat mala sejak kecil, hingga akhirnya mala sudah menjadi seorang istri pengusaha kaya yang baik hati dan mereka juga memiliki seorang putra yang sangat baik.
”pasti buk, tapi apa yang harus aku katakan sama ima buk, seandainya suatu saat nanti ia bertanya perihal ibuk?” mala kembali bertanya.
Bik asih memberikan sebuah bingkisan kepada mala, dan meminta agar jangan di buka dulu, sampai bik asih pergi untuk selamanya. Bik asih juga memberikan sepucuk surat kepada mala
surat ini nanti sesampai di rumah kau baca, dan segera kau urus secepatnya.” titah bik asih kepada mala.
”baik buk, jawab mala sembari menerima barang yang di berikan bik asih kepadanya.

Dua bulan sudah raima di jakarta, ia tinggal bersama buk mala, suami dan anak mereka bayu yang sangat menyayangi mala seperti anak mereka sendiri. Juga bayu yang sangat menyayangi adik angkatnya itu.
Suatu pagi terlihat mala dan suami nya bergegas sepertinya mereka terburu buru
”mah..mama mau kemana?” raima bertanya karna firasatnya berkata ada sesuatu  yang tidak beres.
”mamah.....mamah...” ia terdiam dan teringat kata kata bik asih untuk tidak memberi tahukan ke pada raima, pas di hari kepulangannya itu.
”mama ke kantor bentar ya, kamu di rumah ajah ma abang kamu,” mala bergegas dan meninggalkan raima sembari mencium kening anak angkatnya itu.
Selang beberapa jam, terdengar telfon berdering dan di angkat oleh bayu
” ima, sekarang kamu ganti baju, kita ke rumah sakit, abang anter ke kamar ya,” perintah bayu sambil menuntun adik nya menuju kamar,
Sepanjang perjalanan raima bertanya perihal yang terjadi, tapi bayu hanya menanggapi biasa.
” siap untuk operasi buk?” terdengar seseorang berkata.
” iya dok,” itu seperti suara mama mala, bisik raima.
Raima di bawa ke ruang operasi, tanpa banyak bicara raima hanya diam dan mengikuti apa yang di suruh mama dan dokter terhadapnya.
Sepuluh jam pasca operasi sekarang raima sudah di pindahkan ke ruangan inap.
”ibuk....mah....” terdengar raima memanggil dua ibu nya itu.
”raima, kamu sudah siap nak?” semilir suara yang lembut itu sangat indeh terdengar di telinganya ya, suara seorang dokter yang baik hati.
”emang nya ima kenapa dok?” raima bertanya perihal perban yang membalut matanya.
ima habis operasi mata, dan insyaallah setelah ini mata kamu bisa melihat.” penjelasaan dari dokter yang akrab di sapa Dr. Robert itu sedikit mengagetkan raima.
” alhamdullilah, ima bisa melihat dok, bener dok?” raima seakan tak percaya atas keajaiban yang ia peroleh,
Perlahan dr. Robert membuka perban mata raima,
”sekarang pelan pelan buka mata nya ya,” perintah dr robert kepada raima.

Perlahan raima mencoba membuka matanya, samar samar ia melihat seperti banyangan melintas lintas di hadapannya, perlahan bayangan itu jelas, semakin jelas... dan benar benar jelas. Ia melihat sesosok yang selama ini ia hanya tau nama dan sebutan nya saja.
” alhamdullialah, ternyata dunia itu indah ya,” kata kata yang di ucapkan raima adalah rasa syukur kepada tuhan.
”ibuk asih mana?” raima mulai menanyakan mana ibuk asih, tapi sepertinya pencarian nya nihil, tidak ada yang bernama ibuk asih. Hanya ada mama mala, papa, dan bang bayu, juga seorang dokter.
”sayang tar kita ke tempat ibuk asih ya, tapi kamu harus sehat dulu.” mama mala membujuk raima.
”iya mah...” jawab raima dengan hati tenang.
Orang yang ingin di lihat raima untuk pertama kali adalah bik asih, ia teringat kata kata nya dulu saat masih tinggal dengan ibuk asih
” buk, kalau ima nanti bisa liat, orang yang pertama ingin ima liat adalah ibuk,” kata kata itu terngiang jelas di telinganya. Dan hati nya sedikit teriris karna tidak seperti itu kenyataannya.
Kini sempurna sudah raima, ia tidak lagi seorang gadis cantik yang buta, tapi gadis cantik yang bisa melihat indahnya dunia. Raima pun sekarang sudah menjadi seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negri di jakarta.
”ima, kamu sekarang pasti sudah sedikit tegar untuk mendengar berita ini,” suatu malam mama mala mendatangi kamar raima.
”berita apa mah,?” raima bertanya
Mala mengeluarkan bingkisan dan sepuduk surat.
”ini apa mah,?” raima  bertanya dengan sedikit heran
”buka ajah, tar kamu bakal tau jawabannya.” mama mala menjelaskan dan meninggalkan raima sendiri di kamar.
3jam berlalu, mama kembali ke kamar raima, terlihat raima menangis sambil mengusap usap sebuah foto, dan terlihat beberapa bingkai foto lagi berserakan di kasur. Foto sepasang suami istri, foto seorang bayi mungil yang di gendong oleh seorang perempuan. Dan foto yang di tangan raima adalah foto seorang wanita yang membesarkan nya selama ini.
Raima menangis sejadi jadinya di pelukan mama mala
”sabar ya sayang,” mama mala menenangkan.
”ma, jadi mata yang ada di mata raima sekarang mata ibuk mah?” raima bertanya.
”iya sayang, ibuk tidak ingin niat baik nya ini gagal, jika seandainya di beri tahukan terlebih dahulu kepadamu, karna pasti kamu menolak.
”sekarang ibuk asih, ke dua orang tua kamu, udah damai di surga,” penjelasaan mama mala sedikit membuat raima tersenyum.
Keesokan hari nya mereka sekeluarga dan raima datang ke pemakaman ibuk asih dan juga makam kedua orang tua nya. Untuk meminta restu.
                                                                                               By: YOSHA

cerpen bagian 9

                                                                                                      
                                PENGGANTIMU KEKASIH GELAPKU

Hubungan kami sudah berjalan lebih kurang dua tahun, aku dan Berry sudah hampir 5 tahun saling mengenal, tapi barulah akhir 2007 lalu berry mengutarakan niatnya untuk menjadi pacarku. Aku sangat kaget saat ia mengutarakan isi hatinya padaku. Di satu pihak dia tau aku masih menjalani hubungan dengan seorang laki laki yang tak lain adalah sahabat dekatnya sendiri. Dan di pihak lain dia harus mempertahankan perasaannya padaku. Aku bisa merasakan apa dan bagaimana posisi seorang Berry saat itu. Tapi entah setan apa yang merasuki batinku, hingga malam itu juga ku terima dan ku jawab pertanyaan hati Berry yang menunggu jawaban dariku. Dengan satu komitment ”Tidak ada yang boleh mengetahui tentang hubungan terlarang ini, terutama Torra”. Berry pun sepertinya menyetujui komitment yang telah kami buat. Hampir berjalan 6 bulan hubungan ini tidak tercium oleh orang lain meskipun kami bekerja di satu kantor yang sama. Yang kami lakukan adalah besikap wajar layaknya rekan kerja bila di kantor dan menjadi kekasih di luar kantor. Bahkan tak jarang kami saling mengirim sms mesra di kala jam bekerja.
            Untuk beberapa bulan ini aku dan Berry akan aman bermain di belakang layar, tapi tidak setelah kepulangan Torra dari surabaya akhir bulan ini. Kami mulai menyusun strategi bagaimana caranya kami masih tetap bisa bertemu meskipun ada Torra di samping ku.
            Hy hunny.........I will back to the jakarta today, Aq harap kita bisa saling melepas kangen tonight! Malem ini kamu ga’ lembur lagi kan? Aku mau ngajak kamu dinner di tempat favorite kita.....see a beib..” Ternyata Torra pulang lebih awal dari yang ku kira,
            Oqh...gods....what should I  do?” Aku kaget sekali, sedangkan malam ini aku telah menerima ajakan dinner dari Berry. Tapi aku tau Berry pasti bisa menerima, toh dia juga ngerti gimana posisi ku dan juga dia dalam hubungan terlarang ini.
            Hellow Berr...i’m so sorry hunny, Torra ngajak aku dinner malem ini, ternyata dia pulang lebih awal dari jadwal, so we must pending our plan tonight. I hope you can understand. Aku ga’ mau bikinTorra kecewa.”
            “ Oqw…..yeah……it’s ok beby…..ga’ papah….take care.”
Berry langsung mematikan telfon ku tanpa kata kata manis seperti yang selalu ia lakukan setiap mengakiri pembicaraan kami di telfon.
            Malam itu adalah malam yang sangat indah Aku dan Torra berjalan di sepanjang bibir pantai yang saling bercengrama dan sesekali melemparkan pasir pasir halus ke arah kami.
            Can see hunny?” Torra menunjuk sebuah batang kelapa yang tumbuh condong ke tepi bibir pantai.
            Yyeah….so nice.” Kataku sambil mengeratkan genggaman tanganku di tangan Torra yang terasa sedikit dingin.
            Hunny are you sick beby, your hand is so cool,” ku coba bertanya
            Ga’ hunny, mungkin Cuma pengaruh udara pantai di saat malam, jadi sedikit dingin.” Torra menjawab sambil mencium tanganku yang masih menggenggam tangan nya.
            Are you not kidding, but face kamu pucet beib,…” Aku coba meyakinkan penglihatanku di remang remang lampu pinggir pantai yang sesekali menyinari wajahnya yang sedikit menbiru.
            Torra menarik tanganku dan mengajakku berlari di sepanjang tepian pantai, sesaat rasa cemas yang tadinya membuatku panic sedikit menghilang. Kami berlarian dan saling berkejar kejaran di riuhnya ombak pantai malam itu. Malam itu memang hari hari yang sudah sangat lama aku rindukan sejak Torra mendapat tawaran proyek di surabaya 8 bulan yang lalu. Jarak yang jauh sedikit membuat aku kesepian dan merasakan rindu yang sangat mendalam, hingga pada akhirnya kedatangan Berry mampu menghapus semua kesepian itu.
            Akhir akhir ini aku merasakan ada yang aneh dengan Torra, dia sedikit pendiam, suka melamun bahkan tak jarang ia terlihat seperti orang yang panik dan melempar barang barang yang ada di depannya. Tapi perhatian dan kasih sayangnya tidak pernah berubah padaku.
            Sementara itu hubungan terlarang ku dengan Berry untuk sementara harus kami hentikan dulu, meskipun sesekali kami meyempatkan diri untuk bertemu dan itu pun jika kami di beri tugas keluar kota oleh atasan.
            Pagi itu Torra menelfonku dan menyuruhku datang ke apartemant nya, dan ku katakan padanya sepulang dari kantor aku akan langsung menemuinya.
Malam itu sangat aneh. Teryata bukan hanya aku yang berada di rumah Torra, tapi juga Berry. Hati ku sedikit ciut dan bertanya tanya apakah Torra sudah mengetahui perselingkuhan yang kami lakukan selama lebih kurang satu tahun ini?
            Aku langsung duduk dan bertanya dimana Torra.
            Dia di kamar nya rin,” Berry menjelaskan sembari berdiri dari duduknya.
            Lama berselang terasa hening di dalam ruangan itu, dan keluarlah lelaki yang sudah hampir 5 tahun menemani hidup dan hari hariku, sedikit aneh bagiku, seorang Torra keluar hanya dengan mengenakan piama tidur.
            Aku langsung berdiri dan menghampirinya dan seperti biasa ku kecup kedua pipinya
            Beib....are you ok?” Tanya ku sambil memegangi tangan nya yang masih terasa dingin.
            Thank dear, i’m ok, may be just feel tired, aku sedikit sibuk akhir akhir ini.” Torra menjelaskan sembari tangan nya mengelus rambut panjangku yang terurai di bawah dagunya.
            Malam itu suasana kembali hening setelah aku dan Berry mendengar pernyataan dari mulud Torra
            Aku ...aku....aku....” Torra seperti ingin mengatkan sesuatu rahasia besar yang telah lama ia sembunyikan dari kami.
            Kenapa beib, kamu kenapa? Cerita donk, jangna bikin aku panik gini?” Balasku sambil meyakinkan Torra bahwa ada aku di sisinya yang akan selalu mendengar keluh kesahnya.
            Loe kenapa bro, loe ada problem? Cerita donk ama qw juga, qw sahabat low” Kata kata yang sangat bijak keluar dari mulud sorang berry.
            Mulai detik ini, low harus bisa menjadi pengganti qw buat ngejagain syerin,”  Torra seperti seorang raja yang sedang menitahkan mandat kepada pundawa nya untuk menjaga permaisuri karna ia harus pergi ke medan perang yang sedang memangil manggil nyawanya untuk di tebus.   
            Tidak hanya aku, Berry juga seperti terhenti jantung nya seketika mendengar pernyataan dari mulud Torra.
            Saat di surabaya kemaren aku sakit dan di rawat di rumah sakit, tapi aku sengaja ga’ ngasih tau sama kalian, karna aku tau kalian pasti akan sedikit sock ngedengernya, sedangkan aku tau kalian sibuk. Dan aku juga ga’ mau nanti syerin jadi sedih dan kefikiran ama aku, dari hasil analisa dokter aku menderita penyakit leokimia stadium akhir dan mereka bilang umurku hanya tinggal  menunggu waktu.mungkin tinggal 3 atau 4 bulan, sedang sedang sejak kejadian itu hingga hari ini aku sudah melewati 2bulan yang berat, kadang rasa sakit itu ga bisa ku tahan, kadang terfikir olehku untuk mengakhiri hidupku kala rasa sakit itu datang. Tapi wajah syerin selalu mengahlangi niatku, senuyk syerin mampu menghilangkan rasa sakit itu, meski hanya untuk sesaat. Dan rasanya hari ini adalah saat yang tepat bagiku untuk melepaskan syerin karna aku tau dari dulu sahabat ku ini udah menyimpan rasa kagum bahkan cinta yang mungkin melebihi aku kepada syerin.”
Pernyataan yang sangat panjang yang mampu menelan semua jasad bahkan jiwa ku serasa terbang bersama angin, dan roh ku seolah gugur seperti dedaunan yang di terbangkan oleh sepoi angin....aku kaku, dan mati mendahului Torra. Lalu apa yang harus aku lakukan. Aku seperti orang yang tidak ada gunanya di hadapan Torra. Dimana aku saat ia mencoba melawan penyakitnya? Aku menangis sejadi jadinya di dekapan Torra, mencoba untuk menyembuhkan penyakit terkutuk yang akan memisahkan dia dari ku, tapi tidak banyak yang bisa ku lakukan. Ku peluk erat tubuhnya yang sedikit kurus dan dingin. Ku bisikan kata sayang dan rindu yang sudah lama ku pendam.
Torra memeluk dan menciumi seperti seorang ibu yang menciumi putra putri mereka yang telah lama terpisah.
Satu bulan sudah kejadian malam itu berlalu, selama itu Torra seperti bayi yang selalu di suapi, di nyanyikan, bahkan ku usap usap rambutnya seperti seorang ibu menyayangi anak anaknya. Tidak pernah sedetik pun ku tinggalkan Torra sendirian, aku pun mengambil cuti dari kantor untuk bisa focus mengurusi Torra. Begitu juga Berry, meskipun dia masih tetap bekerja, tapi setiap hari ia akan menyempatkan diri untuk menjenguk Torra.
Kami saling bercerita hal hal lucu yang pernah kami lalui, dan Torra menjadi pendengar yang manis, meskipun sesekali ia seperti tersenyum bahkan terkadang seperti sedih....
Ku bisikkan kata cinta di setiap malam Torra, agar ia selalu meraskan kehadiranku yang tak pernah meninggalkannya sedetikpun.
Hingga satu hari saat terbangun dari tidur
Torra……………Torra………..” Aku mencari keberadaan Torra, ku cari di setiap ruangan di rumah itu tetap tak bisa ku temui. Aku panik tak karuan, ku coba hubungi Berry tapi nomor nya sibuk.
Aku termangu di sofa putih tosca itu saat sebuah telfon mengabarkan bahwa Torra sedang kritis di rumah sakit. Ku lempar ganggang telfon dan berlari ke kamar untuk mengambil tas dan segera menuju ke rumah sakit tempat Torra di rawat. Sesampai di rumah sakit nampak orang tua Torra, adik perempuannya dan juga Berry.
Kenapa Torra tante,?” Tanya ku sembari menghampiri tante tania.
Kamu yang sabar ya, Torra lagi di ruang operasi, dokter bakal ngelakuin yang terbaik untuk Torra.” Tante Tania mencoba menenangkanku yang sedari tadi terlihat sangat panik dan gelisah. Tuhan.... jika ini yang terbaik untuk Torra, aku akan mencoba untuk mngiklaskan nya tuhan, tapi jangan kau siksa torra terlalu lama.
Kita harus bisa nerima apapun kenyataannya rin.” Berry mendatangiku yang sedang tergolek kaku di pinggir koridor rumah sakit. Tanpa ku sadari tubuh ini serasa ingin memeluk pria yang sebenarnya adalah kekasih gelapku. Aku sangat merasa bersalah terhadap Torra karna telah menghianatinya, telah mengecewakannya. Entah apa jadinya seandainya Torra mengetahui tentang scandalku bersama Berry yang juga merupakan sahabat dekat nya.
Selang beberapa saat seorang Dokter terlihat keluar dari ruang operasi, terlihat sekali wajah lelah dari nya. Aku hanya bisa memperhatikan gerakan bibirnya yang sedang berbicara dengan Tante Tania, aku tidak bisa menggerakkan badanku, seolah semua terkunci tanpa bisa ku gerakkan
God.......help me. show your miracle of my life” Hanya itu kata kata yang sangup terangkai dari bibirku yang serasa di pasangi kunci.
No...no....no...” Tante Tania mendatangi ku sembari memeluk dan menangis di hadapan ku seperti sedang mengeluarkan beban yang selama ini ia tanggung.
Aku tak sanggup berdiri di hadapan pusara yang bertuliskan TORRA BINTI RAHMAN. Aku sangat merasa berdosa pada Torra, bahkan sebelum kepergiannya akupun tak bisa menjelaskan serta meminta maaf atas kesalahan ku padanya.
Satu minggu sudah semenjak kepergian Torra, tapi luka itu masih sangat terasa pedih, entah apa obat yang biswa menyembuhkan rasa perih yang ku rasakan saat ini, hari hari bahkan hidupku serasa hampa, kosong, tidak ada arti apa apa lagi...
Untuk apa aku hidup...........”
Hari itu Tante Tania dan juga Berry mendatangi rumahku di bilangan Bintaro
Sebelum Torra di larikan ke rumah sakit, Tante menemukan surat ini di dada nya, Tante rasa ini surat untuk kamu rin, karna saat itu ia berpesan untuk tidak membangunkan kamu, dan cukup berikan surat ini saja.” Tante Tania menjelaskan sembari bercucuran air mata,
Aku mengambil surat itu dan ku baca

To syerin my love’
            Kita ga’ bakal pernah tau, apa dan gimana hidup kita kedepannya, begitu juga aku. Entah setelah hari ini aku akan masih bisa melihat tawa dan senyummu. Kau adalah matahari yang selalu menyinari singaku dan rembulan yang menyejukkan di kala malamku, bahkan kau rintikan hujan di kala gerahku, kau lah segalanya untukku.
Syerin my heart....don’t worry........
Aku udah ngirim seseorang yang bisa ngejaga kamu, seperti aku ngejaga kamu, bahkan mungkin lebih baik dariku.
Berry adalah sahabatku  bahkan saudara bagiku. Aku tau dia sangat mencintaimu, tapi terpaksa mengalah demi rasaku padamu. Aku sangat banyak berhutang kepadanya. Maka, setelah kepergianku terima kehadiran nya di hatimu....
Aku tau berry akan memberikan kebahagian kepadamu.
Aku pergi bukan untuk menghilang dari kalian, justru aku pergi untuk menjadi lebih dekat dan selalu bersama kalian
I love u so much....................your my sun....thank for all
See u in the heaven
                                                           Luph torra’
Entah harus ku apakan secarik kertas yang berisi kata kata terakhir Torra kepadaku. Aku hanya bisa menangis hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku tidak bisa mengembalikan Torra kembali bahkan aku tidak mungkin melarang para malaikat untuk membawa Torra terbang bersama mereka.
Sejenak semua bayangan Torra mulai menari di mataku, tidak ada yang buruk yang ku rasakan. Semua begitu indah.
Tidak begitu saja aku bisa menerima Berry meskipun dia adalah kekasih gelapku yang di titipkan Torra untukku.
Bayangan Torra tidak penah bisa hilang dari langkah dan hidupku. Bahkan Torra yang selalu menjadi inspirasi untuk setiap karya karya bahkan untuk hidupku.
Barulah akhir 2009 tepatnya 21desember yang juga merupakan hari ulang tahun Torra, Berry mendaangi dan kembali menjadi pelindung ku, menjadi Torra baru dalam hari hariku.
3bulan lagi adalah hari pernikahanku dengan Berry, semua kami persiapkan berdua dan juga sedikit bantuan dari Tante Tania yang sudah ku anggap sebagai mama ku.
Torra kini telah menjadi malaikat yang melindungi setiap langgahku, dia selalu mengikuti langkah bahkan bayanganku.
                                                                 By: letter_y