Total Tayangan Halaman

Rabu, 22 Juni 2011

cerpen bagian 9

                                                                                                      
                                PENGGANTIMU KEKASIH GELAPKU

Hubungan kami sudah berjalan lebih kurang dua tahun, aku dan Berry sudah hampir 5 tahun saling mengenal, tapi barulah akhir 2007 lalu berry mengutarakan niatnya untuk menjadi pacarku. Aku sangat kaget saat ia mengutarakan isi hatinya padaku. Di satu pihak dia tau aku masih menjalani hubungan dengan seorang laki laki yang tak lain adalah sahabat dekatnya sendiri. Dan di pihak lain dia harus mempertahankan perasaannya padaku. Aku bisa merasakan apa dan bagaimana posisi seorang Berry saat itu. Tapi entah setan apa yang merasuki batinku, hingga malam itu juga ku terima dan ku jawab pertanyaan hati Berry yang menunggu jawaban dariku. Dengan satu komitment ”Tidak ada yang boleh mengetahui tentang hubungan terlarang ini, terutama Torra”. Berry pun sepertinya menyetujui komitment yang telah kami buat. Hampir berjalan 6 bulan hubungan ini tidak tercium oleh orang lain meskipun kami bekerja di satu kantor yang sama. Yang kami lakukan adalah besikap wajar layaknya rekan kerja bila di kantor dan menjadi kekasih di luar kantor. Bahkan tak jarang kami saling mengirim sms mesra di kala jam bekerja.
            Untuk beberapa bulan ini aku dan Berry akan aman bermain di belakang layar, tapi tidak setelah kepulangan Torra dari surabaya akhir bulan ini. Kami mulai menyusun strategi bagaimana caranya kami masih tetap bisa bertemu meskipun ada Torra di samping ku.
            Hy hunny.........I will back to the jakarta today, Aq harap kita bisa saling melepas kangen tonight! Malem ini kamu ga’ lembur lagi kan? Aku mau ngajak kamu dinner di tempat favorite kita.....see a beib..” Ternyata Torra pulang lebih awal dari yang ku kira,
            Oqh...gods....what should I  do?” Aku kaget sekali, sedangkan malam ini aku telah menerima ajakan dinner dari Berry. Tapi aku tau Berry pasti bisa menerima, toh dia juga ngerti gimana posisi ku dan juga dia dalam hubungan terlarang ini.
            Hellow Berr...i’m so sorry hunny, Torra ngajak aku dinner malem ini, ternyata dia pulang lebih awal dari jadwal, so we must pending our plan tonight. I hope you can understand. Aku ga’ mau bikinTorra kecewa.”
            “ Oqw…..yeah……it’s ok beby…..ga’ papah….take care.”
Berry langsung mematikan telfon ku tanpa kata kata manis seperti yang selalu ia lakukan setiap mengakiri pembicaraan kami di telfon.
            Malam itu adalah malam yang sangat indah Aku dan Torra berjalan di sepanjang bibir pantai yang saling bercengrama dan sesekali melemparkan pasir pasir halus ke arah kami.
            Can see hunny?” Torra menunjuk sebuah batang kelapa yang tumbuh condong ke tepi bibir pantai.
            Yyeah….so nice.” Kataku sambil mengeratkan genggaman tanganku di tangan Torra yang terasa sedikit dingin.
            Hunny are you sick beby, your hand is so cool,” ku coba bertanya
            Ga’ hunny, mungkin Cuma pengaruh udara pantai di saat malam, jadi sedikit dingin.” Torra menjawab sambil mencium tanganku yang masih menggenggam tangan nya.
            Are you not kidding, but face kamu pucet beib,…” Aku coba meyakinkan penglihatanku di remang remang lampu pinggir pantai yang sesekali menyinari wajahnya yang sedikit menbiru.
            Torra menarik tanganku dan mengajakku berlari di sepanjang tepian pantai, sesaat rasa cemas yang tadinya membuatku panic sedikit menghilang. Kami berlarian dan saling berkejar kejaran di riuhnya ombak pantai malam itu. Malam itu memang hari hari yang sudah sangat lama aku rindukan sejak Torra mendapat tawaran proyek di surabaya 8 bulan yang lalu. Jarak yang jauh sedikit membuat aku kesepian dan merasakan rindu yang sangat mendalam, hingga pada akhirnya kedatangan Berry mampu menghapus semua kesepian itu.
            Akhir akhir ini aku merasakan ada yang aneh dengan Torra, dia sedikit pendiam, suka melamun bahkan tak jarang ia terlihat seperti orang yang panik dan melempar barang barang yang ada di depannya. Tapi perhatian dan kasih sayangnya tidak pernah berubah padaku.
            Sementara itu hubungan terlarang ku dengan Berry untuk sementara harus kami hentikan dulu, meskipun sesekali kami meyempatkan diri untuk bertemu dan itu pun jika kami di beri tugas keluar kota oleh atasan.
            Pagi itu Torra menelfonku dan menyuruhku datang ke apartemant nya, dan ku katakan padanya sepulang dari kantor aku akan langsung menemuinya.
Malam itu sangat aneh. Teryata bukan hanya aku yang berada di rumah Torra, tapi juga Berry. Hati ku sedikit ciut dan bertanya tanya apakah Torra sudah mengetahui perselingkuhan yang kami lakukan selama lebih kurang satu tahun ini?
            Aku langsung duduk dan bertanya dimana Torra.
            Dia di kamar nya rin,” Berry menjelaskan sembari berdiri dari duduknya.
            Lama berselang terasa hening di dalam ruangan itu, dan keluarlah lelaki yang sudah hampir 5 tahun menemani hidup dan hari hariku, sedikit aneh bagiku, seorang Torra keluar hanya dengan mengenakan piama tidur.
            Aku langsung berdiri dan menghampirinya dan seperti biasa ku kecup kedua pipinya
            Beib....are you ok?” Tanya ku sambil memegangi tangan nya yang masih terasa dingin.
            Thank dear, i’m ok, may be just feel tired, aku sedikit sibuk akhir akhir ini.” Torra menjelaskan sembari tangan nya mengelus rambut panjangku yang terurai di bawah dagunya.
            Malam itu suasana kembali hening setelah aku dan Berry mendengar pernyataan dari mulud Torra
            Aku ...aku....aku....” Torra seperti ingin mengatkan sesuatu rahasia besar yang telah lama ia sembunyikan dari kami.
            Kenapa beib, kamu kenapa? Cerita donk, jangna bikin aku panik gini?” Balasku sambil meyakinkan Torra bahwa ada aku di sisinya yang akan selalu mendengar keluh kesahnya.
            Loe kenapa bro, loe ada problem? Cerita donk ama qw juga, qw sahabat low” Kata kata yang sangat bijak keluar dari mulud sorang berry.
            Mulai detik ini, low harus bisa menjadi pengganti qw buat ngejagain syerin,”  Torra seperti seorang raja yang sedang menitahkan mandat kepada pundawa nya untuk menjaga permaisuri karna ia harus pergi ke medan perang yang sedang memangil manggil nyawanya untuk di tebus.   
            Tidak hanya aku, Berry juga seperti terhenti jantung nya seketika mendengar pernyataan dari mulud Torra.
            Saat di surabaya kemaren aku sakit dan di rawat di rumah sakit, tapi aku sengaja ga’ ngasih tau sama kalian, karna aku tau kalian pasti akan sedikit sock ngedengernya, sedangkan aku tau kalian sibuk. Dan aku juga ga’ mau nanti syerin jadi sedih dan kefikiran ama aku, dari hasil analisa dokter aku menderita penyakit leokimia stadium akhir dan mereka bilang umurku hanya tinggal  menunggu waktu.mungkin tinggal 3 atau 4 bulan, sedang sedang sejak kejadian itu hingga hari ini aku sudah melewati 2bulan yang berat, kadang rasa sakit itu ga bisa ku tahan, kadang terfikir olehku untuk mengakhiri hidupku kala rasa sakit itu datang. Tapi wajah syerin selalu mengahlangi niatku, senuyk syerin mampu menghilangkan rasa sakit itu, meski hanya untuk sesaat. Dan rasanya hari ini adalah saat yang tepat bagiku untuk melepaskan syerin karna aku tau dari dulu sahabat ku ini udah menyimpan rasa kagum bahkan cinta yang mungkin melebihi aku kepada syerin.”
Pernyataan yang sangat panjang yang mampu menelan semua jasad bahkan jiwa ku serasa terbang bersama angin, dan roh ku seolah gugur seperti dedaunan yang di terbangkan oleh sepoi angin....aku kaku, dan mati mendahului Torra. Lalu apa yang harus aku lakukan. Aku seperti orang yang tidak ada gunanya di hadapan Torra. Dimana aku saat ia mencoba melawan penyakitnya? Aku menangis sejadi jadinya di dekapan Torra, mencoba untuk menyembuhkan penyakit terkutuk yang akan memisahkan dia dari ku, tapi tidak banyak yang bisa ku lakukan. Ku peluk erat tubuhnya yang sedikit kurus dan dingin. Ku bisikan kata sayang dan rindu yang sudah lama ku pendam.
Torra memeluk dan menciumi seperti seorang ibu yang menciumi putra putri mereka yang telah lama terpisah.
Satu bulan sudah kejadian malam itu berlalu, selama itu Torra seperti bayi yang selalu di suapi, di nyanyikan, bahkan ku usap usap rambutnya seperti seorang ibu menyayangi anak anaknya. Tidak pernah sedetik pun ku tinggalkan Torra sendirian, aku pun mengambil cuti dari kantor untuk bisa focus mengurusi Torra. Begitu juga Berry, meskipun dia masih tetap bekerja, tapi setiap hari ia akan menyempatkan diri untuk menjenguk Torra.
Kami saling bercerita hal hal lucu yang pernah kami lalui, dan Torra menjadi pendengar yang manis, meskipun sesekali ia seperti tersenyum bahkan terkadang seperti sedih....
Ku bisikkan kata cinta di setiap malam Torra, agar ia selalu meraskan kehadiranku yang tak pernah meninggalkannya sedetikpun.
Hingga satu hari saat terbangun dari tidur
Torra……………Torra………..” Aku mencari keberadaan Torra, ku cari di setiap ruangan di rumah itu tetap tak bisa ku temui. Aku panik tak karuan, ku coba hubungi Berry tapi nomor nya sibuk.
Aku termangu di sofa putih tosca itu saat sebuah telfon mengabarkan bahwa Torra sedang kritis di rumah sakit. Ku lempar ganggang telfon dan berlari ke kamar untuk mengambil tas dan segera menuju ke rumah sakit tempat Torra di rawat. Sesampai di rumah sakit nampak orang tua Torra, adik perempuannya dan juga Berry.
Kenapa Torra tante,?” Tanya ku sembari menghampiri tante tania.
Kamu yang sabar ya, Torra lagi di ruang operasi, dokter bakal ngelakuin yang terbaik untuk Torra.” Tante Tania mencoba menenangkanku yang sedari tadi terlihat sangat panik dan gelisah. Tuhan.... jika ini yang terbaik untuk Torra, aku akan mencoba untuk mngiklaskan nya tuhan, tapi jangan kau siksa torra terlalu lama.
Kita harus bisa nerima apapun kenyataannya rin.” Berry mendatangiku yang sedang tergolek kaku di pinggir koridor rumah sakit. Tanpa ku sadari tubuh ini serasa ingin memeluk pria yang sebenarnya adalah kekasih gelapku. Aku sangat merasa bersalah terhadap Torra karna telah menghianatinya, telah mengecewakannya. Entah apa jadinya seandainya Torra mengetahui tentang scandalku bersama Berry yang juga merupakan sahabat dekat nya.
Selang beberapa saat seorang Dokter terlihat keluar dari ruang operasi, terlihat sekali wajah lelah dari nya. Aku hanya bisa memperhatikan gerakan bibirnya yang sedang berbicara dengan Tante Tania, aku tidak bisa menggerakkan badanku, seolah semua terkunci tanpa bisa ku gerakkan
God.......help me. show your miracle of my life” Hanya itu kata kata yang sangup terangkai dari bibirku yang serasa di pasangi kunci.
No...no....no...” Tante Tania mendatangi ku sembari memeluk dan menangis di hadapan ku seperti sedang mengeluarkan beban yang selama ini ia tanggung.
Aku tak sanggup berdiri di hadapan pusara yang bertuliskan TORRA BINTI RAHMAN. Aku sangat merasa berdosa pada Torra, bahkan sebelum kepergiannya akupun tak bisa menjelaskan serta meminta maaf atas kesalahan ku padanya.
Satu minggu sudah semenjak kepergian Torra, tapi luka itu masih sangat terasa pedih, entah apa obat yang biswa menyembuhkan rasa perih yang ku rasakan saat ini, hari hari bahkan hidupku serasa hampa, kosong, tidak ada arti apa apa lagi...
Untuk apa aku hidup...........”
Hari itu Tante Tania dan juga Berry mendatangi rumahku di bilangan Bintaro
Sebelum Torra di larikan ke rumah sakit, Tante menemukan surat ini di dada nya, Tante rasa ini surat untuk kamu rin, karna saat itu ia berpesan untuk tidak membangunkan kamu, dan cukup berikan surat ini saja.” Tante Tania menjelaskan sembari bercucuran air mata,
Aku mengambil surat itu dan ku baca

To syerin my love’
            Kita ga’ bakal pernah tau, apa dan gimana hidup kita kedepannya, begitu juga aku. Entah setelah hari ini aku akan masih bisa melihat tawa dan senyummu. Kau adalah matahari yang selalu menyinari singaku dan rembulan yang menyejukkan di kala malamku, bahkan kau rintikan hujan di kala gerahku, kau lah segalanya untukku.
Syerin my heart....don’t worry........
Aku udah ngirim seseorang yang bisa ngejaga kamu, seperti aku ngejaga kamu, bahkan mungkin lebih baik dariku.
Berry adalah sahabatku  bahkan saudara bagiku. Aku tau dia sangat mencintaimu, tapi terpaksa mengalah demi rasaku padamu. Aku sangat banyak berhutang kepadanya. Maka, setelah kepergianku terima kehadiran nya di hatimu....
Aku tau berry akan memberikan kebahagian kepadamu.
Aku pergi bukan untuk menghilang dari kalian, justru aku pergi untuk menjadi lebih dekat dan selalu bersama kalian
I love u so much....................your my sun....thank for all
See u in the heaven
                                                           Luph torra’
Entah harus ku apakan secarik kertas yang berisi kata kata terakhir Torra kepadaku. Aku hanya bisa menangis hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku tidak bisa mengembalikan Torra kembali bahkan aku tidak mungkin melarang para malaikat untuk membawa Torra terbang bersama mereka.
Sejenak semua bayangan Torra mulai menari di mataku, tidak ada yang buruk yang ku rasakan. Semua begitu indah.
Tidak begitu saja aku bisa menerima Berry meskipun dia adalah kekasih gelapku yang di titipkan Torra untukku.
Bayangan Torra tidak penah bisa hilang dari langkah dan hidupku. Bahkan Torra yang selalu menjadi inspirasi untuk setiap karya karya bahkan untuk hidupku.
Barulah akhir 2009 tepatnya 21desember yang juga merupakan hari ulang tahun Torra, Berry mendaangi dan kembali menjadi pelindung ku, menjadi Torra baru dalam hari hariku.
3bulan lagi adalah hari pernikahanku dengan Berry, semua kami persiapkan berdua dan juga sedikit bantuan dari Tante Tania yang sudah ku anggap sebagai mama ku.
Torra kini telah menjadi malaikat yang melindungi setiap langgahku, dia selalu mengikuti langkah bahkan bayanganku.
                                                                 By: letter_y





Tidak ada komentar:

Posting Komentar