RAIMA
”Raima” nama yang sangat indah, melekat pada seorang penyandang cacat seperti nya. Dengan wajah polos dan cantik tidak membuat sosok seorang raima terlihat memiliki kekurangan. Lahir ketika hujan deras melanda, hingga mengakibatkan banjir bandang di sebuah dusun kecil di tepi pulau sumatra. Malang sungguh nasib gadis yang kini genap berusia 17 tahun itu. Tragedi itu mengakibatkan ayah dan ibu nya meninggal dunia. 2 jam sebelum terjadi tragedi itu, ibu raima di larikan ke rumah seorang bidan kampung yang berada lebih kurang 100meter dari rumah mereka. Ayah raima yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan itu dengan sangat berhati hati mendorong gerobak yang berisi istri tercinta yang sedang kesakitan menahan rasa sakit karna akan segera melahirkan bayi pertama mereka. Sesampai di rumah bidan, ia langsung melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik parasnya. Alangkah senang hati suami istri itu. Setelah lebih kurang 5 jam di rumah bidan, sang suami pamit setelah melihat sang istri sudah sedikit kuat untuk berjalan hingga ke luar rumah, dan segera pulang dengan sebuah gerobak tua yang sangat terlihat buruk.
”Besok saja lah kembali ke rumah kalian, sepertinya hari mau hujan, langit terlihat berat.” Begitulah Bidan Asih menasehati ayah raima saat itu,
”Tidak apa apa buk bidan, lagian rumah kami kan tidak terlalu jauh dari sini.” Ayah raima yang sibuk membereskan pakayan ibu menolak ajakan ibu Bidan Asih.
”Iya, tapi kalian harus melewati sungai di sana, bagaimana kau membawa anak mu yang merah ini, dan juga istri yang masih lemas ini?.” Kata Bidan Asih lagi sambil menunjuk kepada istri yang terlihat sangat kelelahan itu. Ayah raima tersenyum. Entah apa makna dari senyum nya itu.
”Ya sudah, berhati hatilah kalian menyeberangi sungai itu, langit berat sekali kelihatannya. Kalau rasa nya tidak mungkin untuk menyeberangi nya, kembali lah ke sini, besok pagi sekali ku antar kalian. ” Bidan Asih menawarkan sepasang suami istri itu sebuah pilihan.
”Assalamualaikum buk bidan.” Balasan dari suami yang terkenal pendiam itu.
Mereka berjalan di malam yang terasa mencekam itu, entah kenapa mereka nekat ingin pulang malam itu juga, mungkinkah mereka tidak sabar ingin memberi tahukan para tetangga tetangga mereka tentang kedatangan malaikat kecil di rumah mereka?
Waalahhualam hanya mereka yang tau hingga kini, dan mungkin hingga nanti saat mereka bersatu lagi di syurga.
”Pak seperti nya hujan mau turun pak, kita berhenti saja dulu pak, kasian bayi kita. ” Ibu sempat memberikan aba aba ke pada ayah raima saat itu.
”Tenang saja buk, sudah dekat, ibu tidur saja di situ,” Ayah menjawab kata kata ibu raima sambil mendorong gerobak tua yang di berikan kakek buyutnya itu.
Dalam seketika turun hujan di iringi gemuruh, petir, halilintar menyambar tak kenal ampun di sekitar mereka. Tapi entah apa yang ada di fikiran sepasang suami istri itu, mereka mneyeberangi sungai dengan aliran arus yang sangat deras dan semakin deras.
”Ibu berpegangan ya.” Mungkin itu kata kata terakhir yang di ucapkan sang suami terhadap istrinya. Tanpa hitungan detik, sebuah pohon yang tumbang menyambar jembatan gantung yang sudah lapuk itu, maklum jembatan itu adalah peninggalan penjajah tempo dulu. Jembatan ambruk seketika itu juga, anak beranak itu terjatuh ke dasar sungai yang deras, ke esokan harinya masyarakat sekitar baru menemukan tubuh suami istri itu tersangkut di batang pohon yang tumbang. Sementara anak mereka di temukan di atas rumpun dedaunan di dekat orang tua nya. Bayi itu langsung di larikan ke Rumah Sakit, setelah melewati masa kritis bayi itu selamat, sedang kedua orang tuanya tidak bisa di tolong. Namun sayang bayi yang akhirnya di rawat oleh bidan ASIH tidak bisa melihat, ia di vonis buta seumur hidup karna ketika peristiwa itu terjadi mata bayi yang belum bisa apa apa itu di penuhi oleh air hingga mengakibatkan matanya buta.
Dua puluh tahun sudah peristiwa itu berlalu, sekarang bayi yang di beri nama RAIMA, yang merupakan nama dari ibunya sendiri, sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik.
Bik Asih merawat dan membesarkan Raima tak obahnya seperti anaknya sendiri. Raima di sekolah kan di SLB, khusus untuk murid yang cacat termasuk buta seperti raima.
” Ima.................. ” Itu lah panggilan yang akrab di dengar raima bila ada yang memanggil diri nya.
”Tolong kamu ambil tempat penyiram bunga kita di dapur ya? ” Bik Asih meminta tolong ke pada anak angkatnya yang buta itu.
”Iya buk,” Raima adalah anak yang sangat rajin ia suka sekali menanam dan memelihara bunga, sama seperti almarhum ibunya yang juga menyukai tanaman. Raima terlihat keluar dari dapur dengan membawa tempat penyiraman bunga di tangannya. Ia langsung menyiram bunga bunga itu .
Memang raima adalah gadis yang istimewa, meskipun buta, ia bisa merasakan dan bisa tau jenis bunga yang ada di taman depan rumahnya itu. Bahkan semua jenis bunga yang ada di taman itu ia hafal jenis dan warna serta bentuknya.
Malam itu pukul satu dini hari raima terbangun dari tidurnya, ia bermimpi bertemu sepasang suami istri yang sepanjang malam membelai rambut dan menciumi pipi nya. Tak hanya malam itu malam malam berikutnya sepasang suami istri itu terus saja menyelinap di antara tidur raima.
Hingga suatu hari
” Buk udah beberapa malam ini ima mimpi aneh trus buk,” raima mulai bercerita ke pada bik asih yang sedang mejalin rambut raima yang panjang terurai indah sebahu itu.
”Mimpi opo to ndok?” bik asih bertanya perihal mimpi aneh raima beberapa malam belakangan ini.
”Ima mimpi ada sepasang suami istri yang gagah dan cantik sekali buk, sepanjang malam mereka membelai rambut, dan menciumi pipi ima.” Raima menjelaskan perihal mimpi yang selalu membuatnya bertanya.
”Ga cuma sekali buk, tapi setiap malam.” Raima menyambung ceritanya.
” kira kira mereka siapa ya buk, kenapa selalu wajah mereka yang hadir di mimpi ima?”
Bik Asih menghela nafas panjang, seperti memikirkan sesuatu dan kembali melanjutkan menjalin rambut putri kesayangannya itu.
” Mimpi itukan bunga tidur ndok, kamu pasti tidak berdo’a menjelang tidur ya? ” Bik Asih mengalihkan pembicaraan.
Bik Asih berdiri dan langsung meninggalkan raima di kamarnya.
” Mungkin sudah saat nya raima tau, siapa diri nya.” Hati bik Asih berbisik sembari hati setengah nya lagi menolak karna takut raima akan sedih jika nanti ia tau nasib orang tuanya.
Seminggu kemudian, datang lah seorang ibu muda dengan seorang anak laki laki yang mungkin sebaya dengan raima. Mereka terlibat pembicaraan serius dengan Bik Asih di ruang tamu rumah yang berbentuk bangunan tua itu. Raima yang saat itu sedang berada di taman bunga miliknya sayup sayup sampai mendengar pembicaraan mereka. Tapi raima tidak mau mencampuri urusan ibuknya, ia sibuk menyirami kembang sepatu, mawar, dahlia, anggrek yang ada di taman miliknya itu.
Terlihat ibu muda itu meneteskan air mata melihat raima dari kejauhan, sedang anak laki laki yang berada di samping nya asyik menyaksikan raima dan sesekali tersenyum sendiri. Mereka pun pamit, terlihat sekali mereka berasal dari keluarga kaya, mengendarai honda jazz kuning mungkin mereka dari kota.
”Aqh...apa yang harus aku lakukan, ” Bik Asih mondar mandir seperti orang kebingungan di kamarnya.
”Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi,” bisiknya lagi. Tak terasa air mata berlinang di pipi perempuan tua itu, tanpa ia sadari ternyata raima sudah berada persis di hadapannya.
”Buk...ibuk kok menangis.” Raima bertanya sembari berlutut dan meraba wajah ibu yang sangat ia sayangi itu dan mengusap air matanya.
”Eh...ima, sudah selesai menyiram tanamannya?” Bik Asih mengalihkan pembicaraan.
” Mereka tadi siapa buk, apa mereka yang membuat ibuk meneteskan air mata?” raima bertanya perihal dua orang dari kota tadi yang membuat bik asih menangis.
”Ah..itu teman bapakmu dulu, Cuma ingin silaturahmi ndok, ” Jawab bik asih sambil menahan air mata yang semakin deras tatkala membayangkan ia akan berpisah dari anak yang selama ini memberi warna indah di hari hari tuanya.
Dua minggu berikutnya orang dari kota yang memakai honda jazz kuning itu datang lagi ke rumah, ia menagih janji, tapi bik asih meminta waktu dua minggu lagi untuk memberanikan diri bercerita ke pada raima siapa dirinya sebenarnya. Dan perempuan itu mengizinkan.
Selesai shalat magrib bik asih memanggil raima yang saat itu sibuk bermain dengan putih kucing kesayangan nya. Bik asih memeluk putri semata wayang nya itu, Bik asih tidak memiliki anak, saat usia pernikahan nya dengan suaminya mencapai usia 6 bulan tuhan berkehendak lain, dalam sebuah kecelakaan kereta api di solo suami nya yang bekerja sebagai tukang pos tewas di tabrak kereta api. Sejak itu bik asih memutuskan untuk hidup sendiri, dan pidah ke pulau sumatera, dan mengabdi sebagai bidan kampung di sana. hingga akhirnya ia menemukan raima.
” Kenapa buk?” raima bertanya sembari tangan nya mencoba meraba dan mencari di mana letak pipi ibunya itu.
”Ima...sekarang kamu sudah dewasa nak, sudah saat nya kamu tau tentang satu kebenaran yang selama ini ibu simpan rapat – rapat. Tapi sekarang ibu harus menceritakannya.” Terdengar isak tangis bik asih sembari melepaskan pandangannya ke arah jendela yang pada saat itu masih terbuka lebar kendati sudah malam, bik asih memang selalu membiarkan jendelanya terbuka hingga menjelang jam 21.00 katanya biar rahmat tuhan tidak terputus hingga kita tertidur.
” Kebenaran apa buk, ayo buk cerita,” Raima mengguncang guncang tubuh tua renta itu.
”20 tahun yang lalu di desa kita ini terjadi peristiwa banjir bandang, dan di saat itu sepasang suami istri datang, ia melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan sehat, setelah proses kelahiran itu, sang suami langsung membawa istri nya yang masih layu pulang dengan menggunakan gerobak kayu yang sangat tua. Ibu sudah melarang mereka untuk tidak pulang malan itu, karna di luar langit sangat gelap, dan sepertinya akan ada badai, tapi dua suami istri itu tidak memperdulikan ucapan ibuk,” Bik asih menghela nafas panjang dan membelai rambut raima yang merebahkan kepalanya di pangkuan bik asih, dan melanjutkan cerianya.
” Selang beberapa saat pasca kepergian mereka, hujan, petir, halilintar sahut sahutan di luar rumah, ibu teringat dengan suami istri itu, tapi ibuk tidak bisa berbuat apa apa. Karna di luar badai sangat kencang. Ibu hanya berdo’a kepada tuhan semoga anak beranak itu selamat sampai ke tempat tinggal mereka. Tragedi itu mengakibatkan puluhan rumah yang berada di pelataran sungai roboh terseret air, begitu pun jembatan yang dulu menghubungkan desa kita dengan desa tetangga juga hancur di seret air. Dan keesokan harinya, masyarakat menemukan sepasang manusia telah menjadi mayat, dan dan bayi mereka yang tersangkut dalam keadaan kritis di atas sebuah dahan pohon. Bayi itu segera di larikan ke rumah sakit, sedang kedua orang tua nya tidak bisa tertolong. Beruntung nasib bayi itu meskipun ia harus menerima nasib bahwa mata nya buta total.” Bik Asih tidak melanjutkan kata katanya lagi, tak terasa air mata sahut sahutan berirama di mata mereka, raima tak kuasa menahan air mata tangis yang selama ini belum pernah ia keluarkan, begitupun bik asih yang semakin erat mendekap raima putri kesayangannya itu. Lama hanya suara tangis dan isakan yang terdengar di ruang yang sunyi itu.
” Lalu di mana makam kedua orang tua raima buk?” Raima mencoba bersuara meski tersendat sendat suara perempuan lembut itu mendayu.
”Sabar ya nak, sabar,” Bik Asih mencoba menenangkan meskipun jiwa nya juga sedikit tidak tenang.
” Besok pagi ibuk ajak kamu ke makam kedua orang tua kamu di kampung sebelah, karna sebenarnya di sanalah kampung mu nak.” Suara bik asih mencoba menegarkan hatinya dan hati putri tercintanya.
Malam yang sangat memilukan bagi raima, sepanjang malam ia hanya menangis, sambil mengingat mimpi nya akhir akhir ini.
”Mungkinkah mereka adalah orang tuaku,”Tanya nya dalam hati.
”Tuhan.....kenapa kau berikan cobaan yang teramat berat dalam hidupku tuhan?” raima berdo’a sambil mengangkat kedua tangan nya, sembari meneteskan air mata untuk kesekian kalinya pada hari ini.
”Raima..seperti janji ibuk, ibuk akan ajak kamu ke makam kedua orang tuamu, ayo mandi dulu,” Bik Asih membangunkan putrinya sembari membelai dan mencium kening raima.
Sesampai di desa tempat pemakaman orang tua raima,
”Buk ibu ima, nama nya siapa buk,? Raima bertanya sambil meraba batu nisan kedua orang tuanya.
” Nma ibuk kamu sama dengan nama kamu ndok.” Bikasih mencoba untuk tetap tegar di hadapan makam kedua orang tua raima.
Terlihat raima mulai meneteskan air mata nya lagi,
”Bk yang kasih nama raima, persis dengan nama orang tua ima buk?” raima kembali bertanya
”iya nak, malam itu ibu sempat mendengar ayah dan ibumu bercanda gurau ia ingin kamu di beri nama TITIAN PUTRI RAIMA ibu sendiri tidak tau makna dari nama itu ndok, maka ibuk panggil saja kamu dengan nama raima,” bik asih menjelaskan perihal asal nama raima sambil menatap langit yang sejuk dan tersenyum.
Raima berdo’a di hadapan makam kedua orang tuanya, di temani bik asih dan setelah itu mereka kembali ke rumah.
Satu minggu sudah peristiwa itu terjadi, setiap selesai shalat magrib bik asih selalu bercerita tentang pertemuan singkatnya dengan orang tua raima, terkadang raima terlihar tersenyum saat bik asih mengatakan kalau ayah raima sangat romantis. Dan ibu raima sangat cantik sama dengan wajah raima sekarang.
”buk meskipun gitu ibuk asih tetap orang tua ima kan buk?” raima bertanya perihal kasih sayang yang di berikan bik asih.
” iya, kamu tetap anak ibuk,” balas bik asih sambil mencubit hidung raima yang mancung itu.
Mereka pun tertawa.
”tok..tok..tok...” terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
”ibuk lihat dulu ya, siapa yang datang,” kata bik asih sembari berjalan ke luar kamar dan melihat siapa yang datang.
Terlihat dua orang yang sudah tidak asing lagi di mata bik asih, perempuan yang biasa di panggil MALA, dan anak laki laki nya BAYU. Bik asih mempersilahkan keduanya masuk
Mereka sangat serius membicarakan sesuatu, dan terlihat bayu sibut bercanda dengan putih kucing raima.
Tak sengaja raima mendengar ucapan ke dua ibuk ibuk itu dari kamar. Raima spontan keluar kamar
”ibuk jahat, ibuk pengen kasih ima sama orang lain, katanya ibuk sayang sama ima, tapi sekarang ibuk nyerahin ima sama ibuk ibuk itu.” raima berlari menuju pintu dan berlari sembari meraba raba dan menagis. Terlihat ketiga, bik asih_ buk mala,__ dan bayu mengejar raima.
Seketika itu ” brrakk......” terdengar dentuman keras di tepi jalan. Tubuh raima melayang satu meter ke angkasa dan jatuh tepat di atas mobil yang menabraknya itu, sekujur tubuhnya di lumuri darah segar yang sesekali menyembur dari mata, hidung, telinga
” raimaaaaaaa.............................. .” teriak bik asih dari kejauhan.
Dengan tergopoh gopoh perempuan tua itu berlari dan mendekap putrinya. Seketika itu juga raima di larikan ke rumah sakit terdekat karna pendarahan yang di alami raima sangat parah.
Satu minggu sudah raima tidak sadarkan diri di rumah sakit. Bik asih dengan setia menemani dan merawat putrinya itu, juga ibuk mala dan putra nya sesekali datang menjenguk raima.
”ibuk............” terdengar suara sayup sayup.
” raima..raima anak ibuk, kamu sudah sadar nak,” balas bik asih dengan hati sedikit senang dan mendekap raima.
” raima di mana buk?” raima melanjutkan bicara dengan suara yang serak dan terkadang hilang timbul itu.
” kamu di rumah sakit,” jawab bik asih menenangkan
”jangan banyak bicara dulu ya, ibu panggil dokter dulu,” balas bik asih dan berlalu meninggalkan raima
Di luar bik asih terlibat pembicaraan dengan seorang dokter, dan terlihat mereka kembali menuju kamar raima di ruangan anggrek o41.
”buk, apakah ibuk benar ingin menyerahkan raima ke pada saya? Mala mulai bercerita, karna bik asih sepertinya sudah bisa untuk di ajak bicara.
”mala, kamu sendiri kan tau, ibuk sudah tua, dan kamu juga sudah tau usia ibuk hanya tinggal menghitung hari, penyakit itu sepertinya tidak akan mengijinkan ibuk untuk berlama lama merawat raima. Saya tidak ingin raima tau hal ini, saya tidak mau dia merasa kehilangan lagi seperti ia kehilangan kedua orang tuanya. Setelah sembuh bawalah raima ke jakarta, rawat dia dengan baik seperti ibu merawat mu dulu.” bik asih menyampaikan amanat kepada mala yang sebenarnya juga memiliki nasib sama seperti raima. Saat mala berusia 6 bulan orang tua nya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Bik asih adalah orang yang merawat mala sejak kecil, hingga akhirnya mala sudah menjadi seorang istri pengusaha kaya yang baik hati dan mereka juga memiliki seorang putra yang sangat baik.
”pasti buk, tapi apa yang harus aku katakan sama ima buk, seandainya suatu saat nanti ia bertanya perihal ibuk?” mala kembali bertanya.
Bik asih memberikan sebuah bingkisan kepada mala, dan meminta agar jangan di buka dulu, sampai bik asih pergi untuk selamanya. Bik asih juga memberikan sepucuk surat kepada mala
”surat ini nanti sesampai di rumah kau baca, dan segera kau urus secepatnya.” titah bik asih kepada mala.
”baik buk, jawab mala sembari menerima barang yang di berikan bik asih kepadanya.
Dua bulan sudah raima di jakarta, ia tinggal bersama buk mala, suami dan anak mereka bayu yang sangat menyayangi mala seperti anak mereka sendiri. Juga bayu yang sangat menyayangi adik angkatnya itu.
Suatu pagi terlihat mala dan suami nya bergegas sepertinya mereka terburu buru
”mah..mama mau kemana?” raima bertanya karna firasatnya berkata ada sesuatu yang tidak beres.
”mamah.....mamah...” ia terdiam dan teringat kata kata bik asih untuk tidak memberi tahukan ke pada raima, pas di hari kepulangannya itu.
”mama ke kantor bentar ya, kamu di rumah ajah ma abang kamu,” mala bergegas dan meninggalkan raima sembari mencium kening anak angkatnya itu.
Selang beberapa jam, terdengar telfon berdering dan di angkat oleh bayu
” ima, sekarang kamu ganti baju, kita ke rumah sakit, abang anter ke kamar ya,” perintah bayu sambil menuntun adik nya menuju kamar,
Sepanjang perjalanan raima bertanya perihal yang terjadi, tapi bayu hanya menanggapi biasa.
” siap untuk operasi buk?” terdengar seseorang berkata.
” iya dok,” itu seperti suara mama mala, bisik raima.
Raima di bawa ke ruang operasi, tanpa banyak bicara raima hanya diam dan mengikuti apa yang di suruh mama dan dokter terhadapnya.
Sepuluh jam pasca operasi sekarang raima sudah di pindahkan ke ruangan inap.
”ibuk....mah....” terdengar raima memanggil dua ibu nya itu.
”raima, kamu sudah siap nak?” semilir suara yang lembut itu sangat indeh terdengar di telinganya ya, suara seorang dokter yang baik hati.
”emang nya ima kenapa dok?” raima bertanya perihal perban yang membalut matanya.
” ima habis operasi mata, dan insyaallah setelah ini mata kamu bisa melihat.” penjelasaan dari dokter yang akrab di sapa Dr. Robert itu sedikit mengagetkan raima.
” alhamdullilah, ima bisa melihat dok, bener dok?” raima seakan tak percaya atas keajaiban yang ia peroleh,
Perlahan dr. Robert membuka perban mata raima,
”sekarang pelan pelan buka mata nya ya,” perintah dr robert kepada raima.
Perlahan raima mencoba membuka matanya, samar samar ia melihat seperti banyangan melintas lintas di hadapannya, perlahan bayangan itu jelas, semakin jelas... dan benar benar jelas. Ia melihat sesosok yang selama ini ia hanya tau nama dan sebutan nya saja.
” alhamdullialah, ternyata dunia itu indah ya,” kata kata yang di ucapkan raima adalah rasa syukur kepada tuhan.
”ibuk asih mana?” raima mulai menanyakan mana ibuk asih, tapi sepertinya pencarian nya nihil, tidak ada yang bernama ibuk asih. Hanya ada mama mala, papa, dan bang bayu, juga seorang dokter.
”sayang tar kita ke tempat ibuk asih ya, tapi kamu harus sehat dulu.” mama mala membujuk raima.
”iya mah...” jawab raima dengan hati tenang.
Orang yang ingin di lihat raima untuk pertama kali adalah bik asih, ia teringat kata kata nya dulu saat masih tinggal dengan ibuk asih
” buk, kalau ima nanti bisa liat, orang yang pertama ingin ima liat adalah ibuk,” kata kata itu terngiang jelas di telinganya. Dan hati nya sedikit teriris karna tidak seperti itu kenyataannya.
Kini sempurna sudah raima, ia tidak lagi seorang gadis cantik yang buta, tapi gadis cantik yang bisa melihat indahnya dunia. Raima pun sekarang sudah menjadi seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negri di jakarta.
”ima, kamu sekarang pasti sudah sedikit tegar untuk mendengar berita ini,” suatu malam mama mala mendatangi kamar raima.
”berita apa mah,?” raima bertanya
Mala mengeluarkan bingkisan dan sepuduk surat.
”ini apa mah,?” raima bertanya dengan sedikit heran
”buka ajah, tar kamu bakal tau jawabannya.” mama mala menjelaskan dan meninggalkan raima sendiri di kamar.
3jam berlalu, mama kembali ke kamar raima, terlihat raima menangis sambil mengusap usap sebuah foto, dan terlihat beberapa bingkai foto lagi berserakan di kasur. Foto sepasang suami istri, foto seorang bayi mungil yang di gendong oleh seorang perempuan. Dan foto yang di tangan raima adalah foto seorang wanita yang membesarkan nya selama ini.
Raima menangis sejadi jadinya di pelukan mama mala
”sabar ya sayang,” mama mala menenangkan.
”ma, jadi mata yang ada di mata raima sekarang mata ibuk mah?” raima bertanya.
”iya sayang, ibuk tidak ingin niat baik nya ini gagal, jika seandainya di beri tahukan terlebih dahulu kepadamu, karna pasti kamu menolak.
”sekarang ibuk asih, ke dua orang tua kamu, udah damai di surga,” penjelasaan mama mala sedikit membuat raima tersenyum.
Keesokan hari nya mereka sekeluarga dan raima datang ke pemakaman ibuk asih dan juga makam kedua orang tua nya. Untuk meminta restu.
By: YOSHA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar