Total Tayangan Halaman

Rabu, 22 Juni 2011

cerpen bagian 1 " aku akan menikahimu"

                                                                                                             
Aku tidak pernah mengerti dan tidak ingin mengerti, sampai kapanpun tidak akan ku mengerti. Hanya satu yang ku tau dan ku coba mengerti akan satu hal itu ” Pengorbanan atas nama cinta”.
Itu pun susah payah aku memahat kalimat yang sangat sakral itu di ujung ujung kesadaranku, terkadang aku sedikit frustasi hanya karna empat kata itu.
Di sinilah aku selalu menghabiskan hampir separoh hidupku, di sudut kamar yang kini sudah berubah fungsi menjadi gudang penyimpanan barang barang yang sudah tidak berguna lagi. Sama seperti aku. Aku sudah sama dengan tumpukan barang barang yang tak berharga itu.
Bila harus ku kenang lagi masa itu. Aqhhhhhh........... ingin rasa nya mencabik waktu, dan ku telan mentah mentah bersama detik-detik  nya.
Suara alunan melodi itu membawa aku berhadapan dengan seorang sosok yang sangat elegan di mataku, bukan karna harta dia elegan, tapi karna hatinya dan kepiawain nya memainkan kibort piano di hadapannya. Sangat fasih ku dengar, bahkan sangat menyatu bersama jiwanya.
Dengan tanpa ragu kesepuluh jemarinya yang panjang dan beruas tinggi itu, seolah olah mengajakku berdansa goyang salsa di deretan kibort itu, melantunkan not not melodi cinta, sangat menggugah jiwa ku untuk memiliki raga itu. Dia terlihat sangat dan sangat sempurna di hadapanku, tapi taukah kalian dia adalah seorang lelaki buta dengan sebuah kepiawaian bermain piano. Meskipun begitu aku tetap menobatkannya sebagai pria sempurna di mataku, tidak ada yang setuju dengan pilihanku untuk mengagumi sosok ini, kecuali banti.
Banti sahabat yang selama ini selalu mengatakan kalau aku sangat berbakat menjadi seorang public figur, bahkan katanya untuk bersaingan dengan titi kamal pun rasanya aku tidak akan jauh ketinggalan. Eqh...banti memang selalu begitu, bahkan secara diam diam dia mendaftarkan namaku kesebuah egen pencari bakat, tapi untung cepat ku ketahui, sehingga niat baiknya itu terpaksa ia pendam.
Dan banti jugalah yang membantuku mencari tau tentang pria buta sempurna itu untukku.
Suatu pagi yang cerah, dan mungkin mengalahkan kecerahan wajahku setiap kali ada yang selalu bilang
”Kenapa zeah kamu ga’ jadi artis ajah?” pagi ini memang indah, tapi kalian juga harus tau kabar dari banti jauh lebih membuat wajahku cerah dan saking cerahnya mungkin matahari yang selalu terkenal cerah itu cemburu dan mengumpat menyaksikan kecerahan wajahku yang seperti sosok cartoon di televisi seandainya mereka menerima kabar gembira, matanya berbinar, mulut menganga, bahkan tak jarang lidah pun ikut terjulur, dan seperti nya bunga sakura sedang gugur, berjatuhan dan membanjiri rambut mereka dengan kelopak kelopak pink nya.
”Nama nya zoe, seorang mantan pianis indonesia,”
Kabar yang sedikit itu saja yang di lantunkan oleh banti sudah membuatku kelabakan mengeluarkan semua koleksi majalan, koran, bahkan internet hanya untuk mencari profil seorang zoe.
”Lalu kenapa dia bisa buta?”
Aku pun bertanya perihal kebutaan yang di alami oleh seorang mantan pianis indonesia itu. Kembali ku bolak balik semua majalah, koran bahkan internet, tapi tetap tidak ku temukan. Pencarianku gagal. Dan informasi banti terputus hingga di situ, tapi dia berjanji akan mencari tau lebih banyak lagi.
Aku sempat tidak percaya pada cinta pandangan pertama, tapi hari itu ku buktikan dan aku di kutuk oleh kutukan sadis cinta pada pandangan pertama. Sosok yang elegan itu membuktikan kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Malam malamku yang selalu di temani oleh lampu remang remang kamar, kini berubah menjadi terang benderang, coba kalian bayangkan seandainya satu saat nanti hati itu benar benar bisa ku taklukkan. Mungkin akan lebih jauh terangnya di banding malam ini.
Hari itu senin 30november 2001. paginya sangat cerah, tapi siang berubah menjadi mendung dan di sore hari menurunkan beban hujan yang sudah sejak lama di pikul oleh langit itu. Dan di malam nya kembali menjadi indah karna aku berdiri di hadapan seorang pria buta sempurna di mataku.
Untuk pertama kali nya setelah satu bulan hanya bisa menatap, mendengar dan berhayal tentang sosok nya, kini aku berada di hadapan matanya. Tapi sayang dia tak kan pernah tau betapa wajahku ini memerah, saking senang nya. Dan satu hal lagi tak ada pujian dari nya tentang wajahku yang cocok menjadi public figure yang selalu ku dengar setiap berkenalan dengan orang orang di luar sana. Ya benar, karna ia tidak bisa melihat semua itu.
”Hy..........”
Tuhan....ia menyapaku sambil mengarahkan tangannya ke hadapanku, tapi kurang pas tangan nya terlalu ke samping, sehingga aku harus mengikuti gerakan tangannya.
”Tuhan......aku menjabat tangannya yang setiap hari memainkan not not melodi indah dari piano itu” hatiku berteriak dengan sangat sadisnya.
Tak ada yang bisa ku keluarkan dari mulutku ini, bahkan untuk senyum pun rasanya kaku. Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku seperti orang bodoh padahal dia hanya seorang pria buta yang tidak jelas riwayat hidup bahkan mungkin juga dia buta karna terlibat tauran atau persengketaan antar gang mafia, tapi taukah kalian semua kegundahan ku itu secepat kilat sirna karna hari itu ia seperti mencurahkan isi hatinya yang sudah berpuluh puluh tahun tergembok mati di bagian terdalam hatinya.
” Aku Cuma seorang manusia yang buta, apa kau mau bersahabat denganku?”
ia bertanya kepadaku yang saat itu tersenyum karna menyaksikan lubang kecil di sudut pipinya yang kelaur jika ia sedang bicara, sayang ia tidak mengetahuinya.
”Kalau dia tersenyum lubang itu pasti akan terlihat lebih dalam ” batinku.
”Iya, aku tau”
Hanya itu kalimat yang ku utarakan padanya sembari sibuk dengan pandangan mataku yang sedikit tidak tau aturan.
Dia mulai bercerita sedikit demi sedikit, awalnya tak banyak yang bisa ku mengerti, karna kesibukanku menatap dan bermain bersama khayalan di lesung pipitnya yang dalam itu, seolah olah aku di bawa ke dasar terdalam lesung pipitnya itu.
”Nama mu talita kan?”
”Ya tuhan.............dari mana ia tau namaku?”batinku bertanya.
”Temanmu yang bilang”dia seolah mengerti kebingunganku perihal nama ku yang di ucapkan dengan fasih oleh bibirnya yang tipis.
”Iya.......”balasku.
Tanggal 30 itu adalah tanggal yang paling sakral dan penuh kenangan untukku. Mendengar cerita dari seorang pria buta yang tetap tegar dan mengaku masih tetap bisa melihat meskipun gelap di pupil matanya, tetap tersenyum meski terkadang senyumnya itu mengundang iba, tapi untung pria malang itu tidak dapat merasakan.
Nama nya zoemy, biasa di panggil zoe. Dulu dia seorang yang sangat di puja dan di puji oleh setiap orang, bahkan tak sedikit wanita  yang berusaha merebut hatinya. Hanya ada satu orang yang berhasil mengait hatinya marina, seorang gadis indo belgia, yang menetap dan bekerja di sebuah perusahaan ternama di kota ini. Cantik, pintar, kaya, dan yang terpenting sangat menyayangi dirinya, tak ada yang kurang dari hubungan yang mereka jalani. Bahkan mereka di nobatkan sebagai pasangan king and queen 2001 bahkan mungkin sepanjang abad kebersamaan mereka. Saling membanggakan pasangan mereka adalah hal yang wajar bagi mereka karna memang mereka raja dan ratu.
Rasanya tidak ada lagi yang harus mereka tunggu untuk melanjutkan hubungan itu kejenjang yang lebih tinggi. Malam itu pun zoe berniat ingin melamar sang pujaan hati marina si bule belgia yang menjadi ratu di hati seorang zoemy.
Sangat elegen consep pertunangan pun di gelar ala belgia, di setiap sudut rumah di pasang bola lampu picar yang terang redup, dan di tengah ruangan di letakkan sebuah piano yang di kelilingi oleh para tamu yang sangat menunggu saat di mana raja memasangkan cincin ke tangan ratu belgia yang cantik mengalahkan kecantikan putri tidur kala itu.
Acara akan di gelar sekitar jam 20.00 wib tapi jam 19.00 para tamu sudah memenuhi sebuah rumah yang berstruktur elegan eropa. Mungkin mereka merasa ini adalah pesta yang tak boleh terlewatkan sedikitpun. Biarlah datang terlalu awal, dari pada datang terakhir dan melewatkan detik demi detik acara itu.
Zoe terlihat rapi, bahkan terlalu rapi sehingga sedikit saja jas hitamnya itu terkelipat ia akan dengan susah payah memperbaikinya kembali,
”Sempurna” mungkin itu kalimat satu satunya yang ia ucapkan setelah memastian tampilannya tidak ada yang kurang satu pun.
Mengendarai jazz putih sambil menciumi kuntum bunga mawar yang akan ia persembahkan nanti kepada ratu belgia pujaannya. Membuat matanya menikmati ke haruman semerbak kuntum demi kuntum mawar itu.
Brakkkk..........................sesuatu menghantam mobil jazz itu. Dengan kecepatan sama sama kencang sangat kecil kemungkinan para manusia di dalam tumpukan mobil itu bisa keluar dengan selamat, kecuali turun sebuah keajaiban. Semua yang ada di sana sudah tidak berbentuk lagi, bahkan seorang pengemudi mobil lain harus rela kehilangan kepalanya karna terjepit kuat, dan seorang wanita di mobil lain juga sekarang sudah menjadi mayat muda yang tak berguna lagi, dan lihat seorang pria yang  merangkak perlahan dan kemudian terhenti, pertanda nyawanya juga sudah terhenti. Tidak ada di antara mereka yang selamat. Ke tiga anak manusia itu segera di bawa ke rumah sakit terdekat untuk memastikan tapi yang pasti dua orang di antara mereka sudah tidak ada harapan lagi, semoga pria yang malang itu mendapat mukjizat sehingga dia adalah satu satunya manusia yang selamat malam itu.
”Koma” seorang karyawan dari majalan infotainment melaporkan
Semua televisi menayangkan berita mengharukan itu, surat kabar, bahkan setiap tikungan jalan mereka para tukang korang selalu meneriakkan
” Seorang pianis indonesia, mengalami kecelakaan dan sekarang dalam keadaan koma”
Membuat orang yang berjalan di sekitar trotoar itu tertarik membeli koran, karna tidak ada orang yang tidak mengenal zoemy.
Kini beralih ke tempat kediaman bule belgia yang gagal bertunangan pasca kecelakaan sang kekasih.
Marina tak pernah berhenti menangis membayangkan nasib kekasih hatinya yang kini terbaring menunggu keajaiban sang pencipta. Setiap ada sanak keluarga, sahabat yang ingin mengajak marina menemui zoe di rumah sakit ia selalu menolak
”Aku tidak bisa melihat dia, aku tidak akan kuat” selalu itu jawabannya.
Dan ia akan kembali menelungkupkan badan, menghabiskan air mata yang mungkin sudah mulai menipis persediaannya.
Setiap mereka yang datang selalu menitipkan setangkai bunga di samping tempat berbaringnya seorang pianis muda yang gagah itu sembari berdo’a agar sang idola di beri sebentuk keajaiban sehingga malaikat masih mau meniupkan nafas sekali lagi ke tubuhnya. AMIN
Di saat itu aku melihat mata seorang pria buta yang ternyata merupakan orang hebat di masa lalu berderai jatuh di telapak tangannya yang tetap menekan kibor kesayangannya. Melantunkan melodi kesedihan sebagai gambaran keperihan dari hatinya.
Hingga detik ini zoe tidak pernah bertanya dan berharab untuk tau lebih jauh tentang aku yang selalu duduk di samping nya setiap hari mengalahkan padatnya jadwal pekerjaan ku. tapi itu tak penting untukku, bagiku dapat menatap wajah dan lesung pipit yang menggoda itu sudah cukup membuat hatiku merasa bahagia, bahkan tak jarang bunga sakura itu berguguran lagi membanjiri rambutku yang hitam lebat.
Sekarang rutinitasku adalah menemani zoe bermain piano tanpa ada orang bahkan conser besar yang mendatang kan beribu ribu manusia di hadapannya dia tetap seorang pianis indonesia bagiku. Taukah kalian setiap hari aku menemani zoe bermain piano, dan dia tidak pernah tau. Aku selalu diam diam datang dan duduk di samping nya. Mungkin sesekali ia merasakan kehadiran manusia lain di sampingnya, tapi sepertinya sudah tidak memberikan efek berarti baginya.
Pernah suatu ketika aku melihat zoe melangkah menuju sebuah ruangan, dengan fasih kakinya melangkah ke dalam ruangan itu, ku amati lebih cermat apa gerangan yang akan ia lakukan, dari kejauhan ku lihat kaki nya tersangkut di sebuah kursi yang berada persis di depan ruangan itu, ia berusaha semampunya untuk melepaskan jeratan benda yang terbuat dari rotan yang sudah tua itu, ingin rasanya aku menghampirinya dan melepaskan jeratan rotan rotan tua itu, tapi hanya air mata yang tanpa sayar mulai bermain di pupil mataku. Sedang dia terlihat tetap tenang, dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju sebuah lemari, sepertinya ia sudah sangat hafal dengan lekuk ruangan itu.
Oya kawan aku lupa bagaimana seorang manusia yang nyawanya hampir lenyap di malam penuh cinta itu bisa kembali bernafas hingga kini.
40 hari tubuh itu terbaring tanpa ekspresi di tempat tidur yang beralaskan kain lunak tipis berwarna biru muda. Iya dia masih koma hingga hitungan hari yang ke 40 itu kawan!
Sayang sunguh nasib pria itu sang kekasih hati tidak juga menampakkan diri hingga detik ini, kata seorang suster hanya sekali seorang wanita berparas belgia mendatangi kamar 321 di lantai 2 itu, tapi hanya sebentar dan setelah itu kembali membalikkan badan dan melangkah sambil menangis ke luar ruangan. Setelah itu bahkan hingga hari ke 40 yang akan menjadi hari bersejarah bagi seorang zoemy
Senin, 10 januari 2002
Mata seorang pianis muda berbakat berkedip dengan pelan. Seorang dokter tua menghampirinya dengan tergesa dan membuka kelopak mata zoe yang tergelak rapuh. Menekan dada, serta meraba urat nadi yang mungkin semakin melemah.
”Ini keajaiban yang jarang terjadi” kata kata mantra dari mulud seorang dokter tua itu seolah hujan lebat di tengah kemarau yang menghancurkan ladang para petani. Tapi sangat malang nasibnya tidak ada seorang pun yang mengabadikan hari bersejarah itu selain seorang dokter dan seorang perawat rumah sakit.  Sejak kejadian di malam yang romantis itu dia seperti sampah. Apa lagi di tambah dengan fonis seorang dokter bahwa untuk selamanya mata yang biasa di jadikan untuk membaca not kunci itu harus mulai terbiasa dengan gelapnya dunia. BUTA, satu kata itu meremukkan seluruh batin seorang zoe, seperti halilintar di siang bolong yang meluluh lantakkan pepohonan penghalang garangnya kilatan petir petir tuhan.
                                                   
Kini hidup pria itu hanya lah untuk piano yang terlihat tua di sudut ruangan itu. Tak ada yang lain, bahkan sepertinya tak ingin hidup untuk yang lain, kata mantra dari dokter beberapa bulan yang lalu membalikkan sejurus hidup nya yang dulu begitu berjiwa elegant.
Tak ada lagi conser, tak ada lagi riuh tepuk tangan, tak ada lagi kiriman bunga dari penggemar. Bahkan tak ada lagi marina. Dia seperti karang yang mengeras di pinggiran pantai yang pasrah menerima hantaman deburan ombak yang sangat dan sangat menginjak injak harga dirinya.
Hari itu sabtu 14 februari 2002, kata orang tanggal ini begitu sakral, katanya lagi tanggal dan hari berkasih sayang, aku yang sejak pertama sudah mengaggumi sosok ini mencoba mewarnai tanggal itu dengan sekali saja ia berkata lebih dari 2000 karakter kalimat. Tersenyum mengalahkan senyum tepian pantai. Mengalahkan senyum terindah marina yang kini sudah menjadi debu di hatinya, atau mungkin masih bersemi di dasar hatinya yang bisa saja satu saat nanti kembali mekar dan berbunga.
Tapi ku katakan kawan.
”Aku tidak peduli”
Rasanya sudah lebih kurang satu tahun aku selalu duduk setiap hari di bangku yang sedikit sudah buruk itu.
Hingga satu saat aku merasa bosan, karna rasanya mataku sudah sedikit rabun mengikuti jejaknya, toh dia juga tidak akan pernah tau bahwa yang setiap hari duduk di dekatnya dan mendengar alunan melodi kesepiannya dari piano di sudut ruangan itu adalah aku, dan dia juga tidak akan pernah tau setiap aku duduk di sampingnya dan menjelang pulang aku selalu menyelipkan sepucuk surat tentang perasaanku hari itu. Entah sudah berapa banyak surat surat itu tertumpuk di sebuah meja di salah satu sudut lain dari ruangan yang sangat dingin itu. Tapi dia juga tidak akan pernah tau apa isi dari suratku itu.
Malam yang sangat dingin, banti menemuiku di kamar ini,
”Kenapa selama dua hari ini kau tidak datang menjenguk cinta pandangan pertamamu?”
Pertanyaan yang sangat konyol sekaligus menggetarkan hatiku untuk kembali melakukan rutinitas ku sebagai secreat girl of zoe life.
”Aku tidak ingin lagi membuang waktu ku untuk cinta yang sampai kapanpun tidak akan ku dapatkan, banti.”
Ku jelaskan perihal hatiku yang sudah patah arang.
Banti memelukku
”Hanya aku yang mempercayai kalau kau masih waras, talita!”
Sembari ia melipatkan jacket kulit kesayangannya ke kedua tangannya.
Malam itu pun aku ajak bulan berbicara, kami saling bertanya jawab tentang kegilaan ku selama hampir 1tahun ini, tak ada obatnya ku rasa, selain menjadikan pria buta itu sebagai pendonor tulang rusuknya untukku.
”Apa kau percaya cinta pada pandangan pertama?”
Aku memulai bertanya kepada rembulan itu.
”Tidak, tidak percaya sama sekali,”
Dasar rembulan sombong, menjawab dengan angkuhnya, dia tidak sadar telah melukai torehan hatiku yang telah lama luka.
”Buktinya aku sangat cinta pada matahari yang gagah itu, tapi kami tidak pernah bisa bersatu, meskipun aku tau dia juga mencintai sejuknya cahaya ku”
Rembulan sepertinya juga patah arang perihal selama beribu ribu, bertriliun triliaun tahun bahkan sejak dunia terkapar di hadapannya ia tak akan pernah bisa bersatu dengan pujaannya itu.
”Dan kau bintang, ”
Ku alihkan pertanyaanku kepada bintang yang sepertinya sedang menunggu giliran pertanyaan dariku
”Aku setuju, ”
Katanya sambil menjatuhkan kerlipan cahayanya hingga berkilauan di atas sana, dan lama kelamaan menghilang
”Kenapa?
Ku lontarkan pertanyaan penasaran padanya
”Sejak aku ada, dunia ada dan dia yang selalu menyinari kami ada, aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama akan cahaya rembulan itu, memang terkadang sesekali kami terpisahkan, kadang dia juga sedikit pemalu, tapi itulah saat di masa aku sangat merindukan cahaya nya”
Bintang bercerita panjang lebar sembari menatap sang pujaan hatinya yang bersinar sejuk di malam itu.
”Aqh............. seperti kisah di sinetron saja mereka di hadapanku”
Sontak aku mulai bosan dan memunggungi mereka yang terlihat semakin dekat. Dan perlahan mataku semakin redup dan perlahan gelap.
Entah kenapa sore itu langkahku seperti susah untuk di kontrol, aku seperti kehilangan keseimbangan bahkan mungkin kehilangan akal sehat. Ku datangi ruangan di tengah ruangan yang biasa ku datangi itu. Tapi tidak ada sosok yang di kenal sebagai seorang pianis indonesia itu, mataku sebenarnya menolak tapi batinku mendorong untuk segera menggerakkan bola mata ke setiap sudut mencari keberadaan pria buta itu.
”Tidak ada, kemana pria buta yang elegan itu?” batinku
Sekejap aku di kejutkan oleh detak langkah yang seperti meraba. Dan batinku berkata
”Itu dia!”
Melihat batangan raga itu ingin rasanya berlari dan mendekap erat tubuhnya, tapi dia tidak pernah nyata untukku.
Ku langkahkan kakiku menuju sebuah pintu keluar dari ruangan itu
”Tunggu!!!!!! ”
Aku tidak begitu kenal suara itu, tapi aku yakin itu zoe, pria buta elegant di mataku.
Ku balikkan badan, ku raziai sekujur tubuhnya, tidak ada yang aneh, dia masih buta, dan masih zoe sang pianis indonesia.
Aku berjalan meraba langkahku dan berharab tidak mencapai tempat berdirinya. Tapi aku seperti terhipnotis, hanya karna mendengar sedikit kata yang mendendangkan rasa cinta di dadaku.
”Aku tau setahun ini, hanya ada satu orang yang selalu mendengarkan alunan melodi kesepianku, dan itu bukan marina, tapi talita, aku tau setahun ini meja bundar di sudut lain di rungan ini selalu kedatangan sepucuk demi sepucuk surat dan itu juga bukan dari marina, tapi talita. Dan aku juga tau selama ini yang selalu duduk dengan aroma yang tidak pernah berubah di sebelah kiri ku juga bukan marina tapi talita. Dan baru hari ini 3april 2002 aku menyadai ternyata tidak saja mataku yang buta, tapi juga hatiku”
Kata kata itu jauh lebih sakral dari pada kata kata banti di awal yang memberi tahukan tentang zoe.
Bahkan jauh lebih indah di banding bila aku picnic di bawah rindangnya pepohonan sakura jepang 4 tahun yang lalu.
Air mata yang entah apa maknanya lancar begitu saja berselancar di liukan kelopak mataku, membasahi tangan yang kini sudah ku jabat untuk pertama kalinya
”Kau menangis?”
Ia bisa merasakan perasaan dan tetesan air mata di atas payung tangannya.
”Kasih sayang dan cinta tidak hanya bisa di rasa dengan mengucapkannya dengan mulud, tapi perbuatan lebih menjamin ketulusan dari rasa itu”
Dia kembali melantunkan melodi indah itu di hadapanku.
Dan sejak hari itu aku merasa akulah wanita paling bahagia di atas permukaan bumi ini, tidak perlu lagi pujian tentang wajahku yang sangat cocok menjadi public figure dari orang orang. Cukup dengan belaian halus tangan pria buta itu, aku sudah sangat di mabuk di dalam buayan palung hati.
Aku tidak mempedulikan lagi apa kata mereka, mereka yang menentang ku, ku balik menentang mereka dan ku katakan
”Tidak ada yang salah dengan cinta”
Dan banti membisikkan sebuah kata kata yang sudah sangat akrab di telingaku
”Hanya aku yang mempercayai kalau kau masih waras!”
Sembari berbalik dan mengedipkan matanya padaku, dan ku balas dengan senyuman.
Kebersamaan bersama pria buta itu sangat indah, berbagi cerita, bahkan bercanda menjadi rutinitas baru kami selain memainkan piano di sudut rungan itu.
30 desember 2002 (tahun baru) pergantian tahun  dan ku harap hidupku pun akan berubah seperti tahun ini. Malam itu sangat indah kembang api mewarnai kisah kami yang sejauh ini tidak menemui masalah.
Hingga ku utarakan sebuah kalimat suci kepada sanga idola elegant ku
”Maukah kau menikahiku?
Rasanya tidak perlu lagi aku berbasa basi dan mengatakan aku cinta, aku sayang. Karna dia sudah tau apa dan bagaimana teriakan dalam hatiku.
”Aku akan menikahimu jika aku sudah bisa melihat.”
Tangan yang terlihat kaku itu dengan penuh rasa sayang mencari letak kelemahan rambutku. Tanpa sadar tubuh ku bersatu dalam dekapannya.
Pagi itu banti datang dengan tergesa gesa mendatangi rumahku, memperlihatkan sebuah brosur pencari bakat dengan kualifikasi
1.       menarik, smart, tidak cacat
2.       tertarik pada dunia modeling
3.       berusia 19-30 tahun
Sepertinya banti tau pasti kualifikasi itu sangat cocok untukku. Dengan usia ku yang baru menginjak 23 tahun tak ada salah nya sekali ini ku terima tawaran sahabat yang selama ini masih mau menganggap aku waras atas rasa cintaku terhadap seorang pria buta yang tidak memiliki masa depan yang kini sudah menjadi sesesorang yang berarti di hidup ini.
”Kapan kau akan menemani ku untuk mewujudkan impianmu itu?”
Aku melontarkan pertanyaan kepada banti. Terlihat wajah merah jambunya berubah menjadi jingga, entah kenapa wajah itu bisa berubah warna.
Ku muntahkan semua rasa bahagiaku kepada sahabat ku itu, perihal keinginan zoe untuk menjadikan aku mempelai wanita dalam sebuah ikatan pernikahan.
”Tapi sayang itu entah kapan bisa ku ujudkan?”
Desahku sambil menyandarkan punggung yang terasa semakin lelah karna seharian bekerja.
Banti memelukku dan membisikkan kalimat penyemangat yang selama ini tidak pernah lagi ku dengar dari orang orang di sekelilingku.
”Cinta akan membawamu ke syurga.”
Tiga hari menanti pengumuman apakah aku akan benar benar menjadi seorang artis, di saat itu juga zoe membawa kabar gembira untukku.
”Aku akan bermain di sebuah pentas seni yang megah talita!” teriaknya di hadapan wajahku yang semakin senang mendengar kabar yang membahagiakan itu...kami pun merancang sendiri desain costum untukku dan juga untuk pertunjukan piano zoe.
Tapi datang sebuah berita yang membuatku mati rasa. Zoe tidak akan pernah menginjakkan kakinya di pentas itu, karna satu hal yaitu buta.
Hari demi hari ku perhatikan zoe semakin kurus karna memikirkan perihal itu, tangannya tidak pernah lagi menyentuh piano kesayangan nya, wajahnya tak secerah beberapa minggu yang lalu. Aku hanya bisa meneteskan air mata untuk orang yang sangat ku sayang itu.   
”Lihatlah Talita zoe begitu gagah dengan piano yang ia mainkan untukmu,” banti mencoba menjelaskan apa yang ia lihat dan rasakan padaku
”Iya aku pun bisa merasakannya banti. Dia tersenyum dan setelah ini ia akan menjadi mempelai lelakiku.”
Zoe kini berdiri dan bisa melihat indahnya dunia dari panggung yang megah itu. Biarlah aku yang menjadi pengganti zoe untuk tidak lagi bisa merasakan dan melihat indahnya dunia, melihat bagaimana mesranya dedaunan berguguran dan membelai tanah, bahkan kini pun aku takkan pernah mampu lagi untuk menatap ke indahan zoe.
” Maukah kau menikahiku?” Aku seorang yang buta bertanya kepada seorang lelaki muda yang tangguh di hadapanku.
” Aku akan menikahimu dengan semua kekuranganmu” zoe.
                                                                  Elvi Widia Arosa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar