Total Tayangan Halaman

Rabu, 22 Juni 2011

cerpen bagian 5


                                       KETIKA TAKDIR MEMISAHKAN


Kisah ini di ceritakan oleh seorang sahabat lawas padaku. Tepat pada hari itu, dimana rasa nya tidak mampu lagi terbendung.
Kini ia sudah di tahab akhir dari perkuliahannya. 4 tahun cukup baginya menimba ilmu di perguruan tinggi, tidak ada rintangan untuk itu. Tapi untuk percintaan dia gagal. Bukan karna apa dia gagal, hanya karna sebuah takdir yang mengharuskan ia pergi enyah dari muka bumi.
  Wajah yang tampan, skill yang brilian, apa lagi yang tidak ada untuk sosok seorang evan. Tiga tahun menjalani kisah cinta bersama seorang rara, gadis sekelas yang ia pacari 3 tahun yang lalu.
Evan sangat menyayangi sosok seorang rara. Cantik, putih, tinggi, mata bulat, rambut panjang. Sangat cocok bila dipadukan dengan seorang evan. Tapi siapa yang mengira kepuasan mata itu ternyata tidak hanya pada kecantikan semata, toh buktinya pertengahan tahun evan jatuh cinta lagi kepada seorang wanita, nila itu namanya.
Nila yang merupakan mahasiswi baru di perguruan tinggi itu, ternyata mampu mengaitkan hati evan pada pesonanya.
Memang nila tak kalah bila di banding rara, pintar, elegant, wibawa, namun tetap terlihat santai. Tapi itu yang membuat evan mengagumi sosok seorang nila. Menurutnya nila begitu beda,
Lalu apa yang kurang dari sosok seorang rara?
Jawaban evan hanya satu “ rara tidak pernah tau bagai mana perasannya.”
Rara lebih terbilang mengabaikan rasa yang di pancarkan oleh seorang evan, rara terlalu sibuk dengan urusan urusan yang tidak menentu. Boro boro urusan kuliah.
Rara telah menjadikan evan merasa tidak di butuhkan lagi. Dan di saat inilah evan membutuhkan perhatian lain, dan itu mampu ia dapat dari sosok seorang nila.
Evan sangat tergila gila pada nila, hanya saja ia tau masih ada rara yang lebih patut untuk ia sayangi. Tapi apa? Rara malah terasa semakin jauh. Disinilah sosok nila mulai menggantikan peran rara untuk memberikan perhatian lebih pada evan.
Tapi evan masih termasuk pria yang menghargai sebuah hubungan, ia tau betapa rasa sayangnya hanya untuk rara, sedang nila hanya lah wadah untuk menghilangkan rasa sepinya.

Hingga satu hari, rara benar benar hilang, sedang evan menunggu untuk sebuah kepastian. Kepastian tentang rara atau mungkin kepastian dari seorang nila.
Yang evan lakukan hanya menunggu dan menunggu. Tapi tetap rara tak kunjung hadir, malah di saat itu ada nila bersamanya. Tapi evan tetap tidak mau membuka pintu hatinya untuk nila meski ia ingin membuka nya. Itu hanya karna ia masih mencintai rara. Tapi kemana rara?
Hingga satu hari hal yang selama ini tidak ingin evan langgar, terpaksa ia langgar. Nila masuk dan menancap ke palung hati terdalam seorang evan. Mereka menjalin sebuah hubungan tanpa status, evan cukup terhibur oleh kehadian nila di dalam hidupnya yang seandainya rara tahu, hidup yang kini di jalani evan hanya tinggal menunggu hari.
Evan pergi tanpa sesal namun dengan membawa sebuah Tanya “ kemana rara?”
Di pemakaman itu baru terlihat sosok seorang rara. Seperti ia menyesali takdir itu, tapi nasi telah menjadi bubur. Evan pergi meninggalkan dirinya.
Satu hal yang membuat hati rara teriris tipis perih
Sebuah CD bukti kasih sayang tulus dari seorang evan untuknya
“ kini sesal itu hanya akan menjadi derai air mata, karna penyesalan yang tak terbalas.”
Kini betapa hati rara seakan mati karna menyesali hari yang telah berlalu.
Hari itu nila mendatangi rara di sebuah kawasan kost
Yang mereka bicarakan hanya seputar evan pujaan mereka
Nila menjelaskan, perannya selama ini hanya sabagai penyemangat hari hari evan tanpa rara. Sejak orang tua evan bercerita tentang penyakit leukemia yang di derita evan, nila seakan terbawa nuraninya untuk membantu hari hari terakhir evan.
Mendengar itu air mata rara semakin deras mengguyur pipinya.mungkin yang ia rasa adalah penyesalah. Kenapa bukan dia yang berada di samping evan di detik detik terakhir itu.
Tapi kini semua telah terjadi, evan telah kekal membawa cinta yang tulus untuk rara.

                                                                         By: letter_y@yahoo.com
                                                                         Inspiration by: RK
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar