Total Tayangan Halaman

Rabu, 22 Juni 2011

cerpen bagian 4


                                                                                                                                  
                           DETIK SETELAH DETIK  YANG BERLALU


Kita tak kan pernah tau apa dan bagaimana kehidupan kita setelah ini. bahkan untuk sedetik setelah ini. tapi itulah kehidupan bernaung di dalam takdir dan satu kata yang pasti selalu menjadikan kita bertanya tentang masa depan.
Seperti seorang khalifah, dan aku adalah khalifah itu. Bukan untuk menyianyiakan kehidupan aku berada di sini, tapi untuk menjadikan hidup itu berarti untukku, meski itu hanya untukku aku tak kan pernah ragu untuk berbagi, karna aku tau di dunia ini aku tak sendiri.
Masa depan yang menjadikan aku haus akan sesuatu yang menjadikan aku bermutu, maka untuk itu aku belajar, SD, SLTP, SMA, hingga kini di perguruan tinggi.
Aku sangat menikmati masa masa belajarku. Aku menyukai semua tentang kehidupan, meskipun itu terburuk untukku. Tapi hari itu keinginan ku sangat berbelit untuk satu kenyataan. Aku tak ingin melanjutkan kehidupanku. Aku ingin kekal tanpa ada yang menjadikan hatiku terbakar seperti hari ini. dan tak ingin ada penyesalan yang berarti dalam hidupku yang secara logica adalah sebuah keindahan.
Ceritanya singkat saja, dia orang yang menjadikan aku menyenangi hidupku, dia yang menjadikan aku berarti untuk sebuah masa depanku, apa yang tidak pernah dia berikan padaku? Tidak ada, semua untukku. Awal aku mengenalnya, dia begitu indah untuk ku, dia begitu nyata, dan aku berkata “ ini tidak sedang bermimpi “ tatapan mata yang menyejukkan relung hatiku, menjadikan dia sosok romantis Edward collin, dalam drama percintaan twilight. Senyum bersahaja menjadikan dia sosok teduh di setiap kegersangan yang menjadikan dunia terasa panas. Dan dekapan hangat tubuhnya seperti melindungiku dari monster monster kebiadaban.
Tak pernah ku dengar keluhan yang menjadikan aku bertanya akan perasaannya padaku, aku seperti terhipnotis sehingga selalu membuatku percaya akan aroma denyut nadinya yang begitu harum bersama darah darah yang menjadikan kita hidup. Sosok yang sangat perfect untuk sebuah icon cinta tanpa lambang untuk orang sepertiku. Dia yang selalu katakana.
“ bahkan untuk sedetik setelah ini kita tak kan pernah tau maknanya “
Betapa aku serasa mati seandainya mengenang sosok yang kini telah menjadi abu dalam hatiku. Betapa serasa mati sesaat saat aku menyaksikan tubuh kekarnya terbaring tanpa ada kehidupan yang mampu terpancar dari wajahnya. Dan yang ku lihat adalah darah darah darah di antara geleparan tubuh yang menahan rasa sakit saat harinya setelah detik itu berakhir.
Tak ada kata kata selain bayangan senyuman yang kini hampir pudar temani detik detik itu.
Di hari itu, di sekelilingku adalah makam makam mereka yang merasa lelah dengan hidupnya, dan ingin kekal seperti dia yang ku kenang. Lalu aku bertanya padanya
“ untuk apa di detik itu kau kata kan cinta padaku “
“ sedang kau tak pernah tau bahwa setelah detik itu kau dengan senyuman tinggalkan aku, dan kini terpaksa menginjakkan kaki ku di satu tempat yang aku sendiri tak kan pernah tau, setelah detik keberapa aku di sini. Aku mengutuk detik itu, detik yang merenggutmu dariku, kenapa harus ada detik itu “
Di pemakaman itu tangis ku mengikuti jejaknya sebelum detik kepergiannya.
Sebuah kendaraan mewah dengan seorang pengemudi tampan dan seorang lagi wanita cantik. Apa yang mereka lakukan pada hatiku? Mereka rampas hati ku, mereka yang menjadikan aku serasa mati di pemakaman ini.
Yang ku tau saat itu dia yang ku sayang, sedang tersenyum simpul dengan bingkisan kecil di tangan nya. Mereka tak kan pernah tau isi bingkisan itu selain aku. Sebuah cincin yang pernah ia ceritakan padaku. Tapi aku tau untuk mendapatkannya tidak mudah, satu pengorbanan darinya untuk ku, kematian. Lalu masih di tempat pemakaman itu aku kembali bertanya.
“ lalu untuk apa kau beli cincin ini dengan kematian mu? ”
“ kau lihat, tanganku tak pantas memakai nya,”
“ bukan karna cincin yang kau tebus dengan kematian ini buruk, tapi karna semua ini sudah tak ada gunanya.”
“ untuk apa kita selalu satukan kelingking dan selalu ucapkan janji cinta, kalau ternyata kau sendiri yang menjadikan janji itu terkubur bersama mu. Lalu untuk apa hanya aku sendiri nikmati keindahan yang dulu sempat kita raih?”
Semua yang ku rasa, ku teriakkan padanya, tapi dia tidak akan ada lagi untukku. Kini aku sendiri. Aku bukan apa apa tanpa nya. Rasaku telah terlanjur tertancap dalam untuk sebuah nama “ lutfy ” betapa aku mencinta untuk sosok lutfy yang ku sayang. Tapi lutfy pergi untuk keabadian.
Dua minggu setelah detik yang berlalu itu. Mataku seperti tak mampu lagi terbuka, air mata ku kering seperti musim kemarau. Tubuhku kaku seperti tertanam di tumpukan es kutup utara.
Setiap malamku, selalu memimpikannya seolah ia mengajakku lari dari penderitaan tentang perasaanku yang sudah mati.
Seperti malam kemarin dia mengajakku berdansa dengan memakai gaun putih suci yang ia berikan padaku sebelum detik detik itu. Aku terbang melayang dan
ku rasa dingin kecupan di pipiku. Aku terbangun dan mata ku seperti berkaca.
“ apa aku menangis?”
Dan malam ini pun mimpi itu  temani tidur ku, dia memelukku dengan erat dan katakan.
” bahkan untuk sedetik setelah ini kita tidak akan pernah tau maknanya ”
“ maka hargai detik detik sebelum detik itu, masa depan ada di setiap detik yang kita hargai itu”
Itu malam terakhir aku meneteskan air mata penyesalan atas kepergian lutfy ku. Kini meski pun aku menangis itu adalah tangis bangga karna di detik detik ku yang berlalu pernah hadir satu lutfy di hatiku. Dan sampai kapan pun nama itu telah ku ukir sejadi jadinya di setiap urat nadiku, di setiap aliran darahku, dan di setiap lekuk otakku.
Aku tau makna mimpi terakhir itu. Aku harus bangkit, aku harus hargai detik detik yang pernah menjadikan aku mengenal lutfy, detik detik yang menjadikan aku kehilangan lutfy. Detik yang menjadikan aku mencintai hidupku, masa depanku, dan untuk cintaku.” Lutfy “.
                                                                                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar