CinTa AureL
“Apa lo bilang, qw ga’ bisa jadi pacar yang baik. Trus slama ini apa, lo selalu minta qw ini, itu, bayarin ini, itu!” sumpah serapah keluar begitu saja dari mulut ku ketika mendengar Rio mengucapkan kata kata putus dengan alasan yang mengatakan aku ga’ bisa jadi pacar yang baik.
Sore itu aku pulang dari campus dengan wajah yang kusut karna masih memikirkan tentang kejadiaan siang itu. Sesampai di rumah di sambut dengan teriakan mama dan hardikan papa. Hal ini sudah biasa tejadi di rumahku, tidak hanya sekali bahkan berkali kali aku harus menyaksikan tangan kasar papa mendarat dengan tepat di pipi mamaku. Menurut cerita nenek yang ku datangi bulan kemarin saat libur semester, papa dan mama adalah korban dari nenek dan kakek yang menghendaki mereka menikah, padahal saat itu mama bahkan papa sudah memiliki calon masing masing. Tapi karna orang tua papa dan mama adalah sahabat, maka mereka berniat menjodohkan mama dengan papa.
Aku langsung melangkahkan kaki menuju kamar tanpa berkata apa apa bahkan menoleh pun aku serasa malas. Toh mereka tidak akan menghiraukanku.
“Tuhan, apa sih salahku, apa juga dosaku, apa mungkin karna aku lahir dari sepasang manusia yang tidak pernah menghargai cinta, bahkan mungkin tidak ada cinta di hati mereka untuk pasangan mereka.” Do’aku sembari terasa tetesan air mata yang meluncur dengan pelan dan membasahi bantal ungu kesayanganku, tapi tetap tak ku hiraukan. Kadang terfikir olehku dunia ini tak pernah adil padaku, kenapa harus rio yang meninggalkan aku, kenapa harus mama dan papa yang menjadi orang tuaku, kenapa harus aku sendiri yang menanggung derita ini, kenapa tidak ada kakak adik yang siap berbagi denganku. Tapi semua itu mungkin telah menjadi jalan hidupku. Dan aku masih bersyukur dengan keadaan keluargaku yang kacau seperti ini tidak membuatku hancur dan menjadikan prestasiku turun. Bahkan untuk hal ini semester kemaren aku masih sempat menjuarai lomba sastra antar campus.
“Tit……tit…” sepertinya itu suara klakson mobil Abel. Abel lah satu satunya sahabat yang paling mengerti aku. Yang mau mendengarkan keluh kesahku, bahkan abel juga tempat pelarianku seandainya aku merasa tak nyaman di rumah.
“Lama banget ta’ mo kuliah apa ke club?” hardik abel dari jendela mobil AVANZA silvernya.
Aku berlari menuju abel
“Sorry, qw ketiduran bel!” semabari membuka pintu mobil dan langsung mengeluarkan handset untuk mendengarkan lagu lagu dari mp4ku.
“Wait…wait….elo habis nangis?” Tanya abel sambil mengarahkan kepala ku ke hadapannya.
“Ga’ Cuma kelilipan barusan di kamar” bantahku seolah yang kukatakan itu benar.
“Qw tau banget siapa low ta. Kenapa bonyok lagi?” abel masih mendesak di sepanjang perjalanan agar aku becerita apa yang terjadi.
“Rio mutusin qw!” jawabku singkat.
“Apa. Cinta….cinta! benerkan kata qw, rio itu Cuma manfatin low, setelah dia liat mangsa baru yang lebih dari lo, dia bakal ninggalin lo. Udah berapa kali qw bilang ta?” gubris abel seperti guru SMA ku dulu.
Beberapa menit perjalanan kami sampai di campus. Pemandangan pertama yang ku saksikan adalah rio sedang memeluk wanita lain. Dan itu adalah musuhku fanya. Detak jantung ku seakan melemah dan mungkin satu saat siap untuk mati berdiri. Aku tak berkutip air mata yang menjelaskan semuanya. Abel yang juga melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepala.
“Udah ah ta cowok kaya gitu aja lo tangisin.” Ucap abel menghibur. Tapi apapun yang di ucapkan abel saat itu tak ku hiraukan.tanpa sadar kakiku melangkah menuju rio dan fanya yang sedang duduk dengan mesra di taman kampus
Sebuah tamparan mendarat dengan sukses di pipi kiri rio.
“Ow…..karna cewek ini, lo ninggalin qw?” hardikku dan menunjuk muka fanya. Mereka hanya diam tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut fanya maupun rio.
“Kemaren qw yang hancur karna lo, tapi sekarang bisa qw buktiin lo yang bakal hancur karna udah milih dia” tambahku lagi dan meninggalkan mereka yang masih kelihatan bingung.
Aku hanya bisa menangis dengan keadaan ini. Kenapa harus fanya? Sesampai di ruangan langsung ku tundukkan kepala di atas meja sambil mengumpati mereka berdua.
“Jangan sedih, masih banyak pria pria lain yang jauh lebih baik dan jauh lebih mencintai kamu” ucap seseorang sambil mengacungkan sebuah sapu tangan ke arahku. Saat ku tegakkan kepala. Aurel?
“Lo ngapain di ruangan qw?”Tanya ku semabari menolak pemberian sapu tangan dari aurel.
“Nyasar!” jawabnya singkat
Aurel duduk di sebelahku. Aurel seorang mahasiswa perantauan yang tinggal di sebuah rumah kontrakan di sekitar campus. Juga merupakan salah satu mahasiswa pintar dan juga rekan ku saat lomba sastra semester kemaren. Aurel meraih juara 1 sedang aku hanya di juara 3.
“Kenapa? Putus ma pacar, habis nampar pacar, atau habis ketelen cabe merah?”rayu nya padaku. Aku tersenyum dan melemparkan sebuah gulungan kertas buram ke arah wajahnya.
Tak terasa pagi itu aku mendapat hiburan yang sangat berarti untukku, kenapa tidak sejak saat itu aku dan aurel sering bertemu dan ngobrol bareng bahkan tak jarang aurel mengajakku mampir di kontrakannya yang hanya berjarak 100 meter dari campus. Kami terlihat akrab. Bahkan abel juga merasakan aura persaingan dengan aurel. Tapi bukan abel namanya kalau harus menjadi usuh. Abel juga menjadi sangat akrab dengan aurel.bahkan kami bertiga sering jalan ke mol dan hangout bareng.
Hadirnya aurel di hidupku sedikit mengurangi rasa jenuhku dan rasa sedihku terhadap keadaan orang tua, dan juga rio yang kini telah bersama fanya. Ternyata kedekatanku bersam aurel menimbulkan rasa cemburu di hati rio.hingga suatu sore di taman kota rio mengikuti aku dan aurel yang sedang asyik bercengrama
“Cinta, aku mo ngomong.” Rio langsung menarik tangan ku sembari menatap tidak senang kepada aurel.
“Apaan sih, hak kamu apa narik narik aku, siapa kamu?”hardikku sambil melepaskan genggaman tangan rio yang keras.
“Kamu pacaran ama dia.”rio mencoba meyakinkan dan menunjuk ke arah aurel.
“Iya! Kenapa?”bantahku
“Bukannya kamu udah punya fanya. Dan mulai detik ini jangan ganggu aku lagi!” hardikku dan langsung menarik aurel untuk meninggalkan tempat terkutuk itu.
Terlihat aurel sedikit heran.
“Ta dia pacar kamukan?”
“Mantan!” balasku singkat.
“Oya mantan,” aurel meyakinkan lagi.
Kejadian hari ini sempat membuatku stock. Aku langsung pulang menuju rumah dan seperti biasa aku mendapati orang tuaku beradu mulut tapi sepertinya kali ini sedikit berbeda. Aku mendengar mama meminta papa untuk menanda tangani surat cerai. Mendengar kata kata itu aku langsung mendatangi mereka
“Puas kalian! udah menjadikan aku korban tunggal dari kelakuan kalian. Sekarang silahkan cerai. Dan aku tidak akan tinggal bersama salah satu di antara kalian. aku muak ma….kalian udah bikin aku menderita…….”tangis ku tak tertahan lagi. Cukup sudah aku menahan penderitaan ini sejak aku mengenal yang namanya hidup. Dan hingga saat ini 22tahun usiaku. Tak pernah sekalipun aku melihat orang tua ku damai, kecuali saat perayaan ulang tahunku yang ke 5 dan itupun hanya bertahan sekitar 2hari. Setelah itu keadaan kembali lagi.
“Cinta…kamu mau kemana sayang….?”mama mencoba menahanku yang sudah membawa barang untuk keluar ari rumah ini.
“Cinta!sekali kamu keluar dari rumah ini, jangan berharap lagi papa menerima kamu lagi!” terdengar teriakna papa dari kamar.
Aku tak hiraukan perkataan mereka.apapun yang mereka katakan tidak akan menghalangi niatku untuk pergi meninggalkan rumah.
Di perjalanan ku telfon abel, tapi sayang abel untuk dua hari ini tidak berada di rumah. Keluarga nya pergi mengunjungi eyang kakung nya di solo. Berarti di rumahnya tidak ada orang, dan tidak mungkin aku ke rumahnya meskipun abel sudah mempersilahkan.
“Rel……….qw kabur dari rumah” ku kirimi aurel sms.
Aurel menelfon:
“Low dimana sekarang?”
“Di taman kota”
“Lo tunggu di sana ampe qw datang”
Dan telfon aurel pun terputus karn abatrai hp low bat. Lama aku menunggu aurel. Hujanpun mulai turun tapi aku tetap duduk di taman kota menunggu aurel. Karna bagiku saat itu hanya aurel yang bisa membantuku.
“Cinta…………………………….” Teriakan aurel dari ujung jalan.
Dan setelah itu aku tak tau lagi apa apa.
“Qw dimana?” Tanya ku mencoba meyakinkan
“Di kontrakan qw” aurel masuk dengan secangkir teh panas.
Ternyata saking lamanya aku terkena hujan membuatku jatuh pinsan. Aurel membawaku ke kontrakannya.
Tanpa rasa permisi aurel memeluk tubuhku, aku kaget bercampur senang.
“Jangan lakuin itu lagi ya ta’ qw ga’ mau kehilangan lo’ qw mau bilang qw sayang ama lo ta?” pernyataan terburu buru yang keluar dari bibir seorang aurel yang selama ini terkenal anti wanita.
Aku tak menjawab pernyataan aurel itu, kecuali kecupan mendarat lembut di kening aurel. Sejak saat itu aurel menjadi satu satunya orang yang ku cinta. Tidak mama tidak papa tidak juga rio. Tapi aurel. Dan aku tidak ingin apapun memisahkan aku dengan aurel. Hari hari ku jalani bersama aurel.
Sudah 2 minggu aku tinggal di rumah abel setelah abel pulang dari tempat eyang kakung nya aurel mengantarkanku ke rumah abel, sejak itu aku tinggal bersama abel. Keluarga abel sudah ku anggap sebagai pengganti mama dan apapa. Aku sangat membenci mama dan papa, meskipun sesekali aku sangat merindukan mereka setiap kali abel dan arang tuanya saling bercanda.
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 23 tahun. Paginya aurel mengajakku ke suatu tempat. Dengan mata tertutup abel menuntunku. Aurel sengaja mengajak abel bersama kami agar abel juga merasakan kebahagiaan kami.
Sebuah bungalau yang sangat indah terhampar taman dengan aneka warna bunga, dan jenis. Mataku tak berkedip sedikitpun menyaksikan keindahan itu.dari mana aurel tau ada tempat seindah ini? Tanya ku dalam hati.
Melihat kearah barat pemandangan yang sangat berbeda tertangkap oleh mata telanjangku sebuah danau yang airnya sangat bersih dan di sekitar tepiannya berjejer pepohonan pinus yang rindanga dan sejuk.
“Serasa di syurga!” desahku.
Dari kejauhan aurel memanggil kami.
“Cinta…..abel…..sini….” teriaknya
Kamipun berlari kearah aurel, sebuah meja makan dan di sekitarnya di penuhi bunga bunga lili sangat indah.
“Ops……qw harus menyendiri nih,” cap abel dengan nada sedikit cemburu.
“Thank ya bel.” Ucap aurel.
“Ship!” jawab abel sambil menjabat tangan aurel.
“Oya ta’ yang ini baru qw setuju.” Bisiknya sembari menunjuk aurel
Abel berjalan semakin jauh meninggalkan aku dan aurel. Hari itu sangat indah. Abel mengambil gitar Yamaha kesayangannya dan menyangikan lagu romantic untukku. Kami pun menyantap hidangan yang sudah di persiapkan oleh aurel dan di bantu abel.
“Kamu romantic juga ya?”kataku memulai pembicaraan.
“Ya iya lah. Kalo ga’ ngapain aku kuliah si jurusan sastra” jawabnya
Aku tersenyum.
“Ta…..hari ini aku mau bilang satu hal.” Ucapnya gugup.
“Apa?” balasku singkat.
“Aku mau ngelamar kamu!”
Sesaat jantung ku berhenti, Mataku berbinar, mukaku merah padam. Dan sekujur tubuh berubah menjadi dingin. Aku tak tau harus berkata apa. Tapi yang pasti aku sangat senang.
“Saat wisuda nanti lamaran ini bakal kita resmiin.”katanya lagi tanpa membiarkanku menjawab atas pernyataannya tentang lamaran itu.
Langsung ku peluk arat tubuh aurel.
“Aku mau rel. aku juga sayang ama kamu.” Balasku.
Jadilah bungalau itu saksi cinta kami yang tulus. Tiba tiba di kejauhan aku melihat beberapa manusia berjalan menuju kea rah kami. Dan aku sangat hafat tiga di antara mereka.
“Mama, Papa, Abel….” ucapku heran.
Lalu siapa dua orang itu. Tanpa membiarkanku heran terllau lama.
“Yang dua itu mama ama papahku.” ucap aurel pasti sambil mengangkat tangan dan melambaikannya. Dan dibalas oleh Abel.
Mama langsung memelukku
“Maafin mama dan papa ya ta kami sudah menyadari semua nya. Mama dan papa tidak akan pisah, mama sadar kalau apa yang udah kami lakuin selama ini sangat menyiksa kamu,” ulasan yang panjang dari mama yang meneteskan air matanya.
“Kok bisa?” bantahku heran.
Ternyata pertemuan hari ini sudah di rancang sedemikin rupa oleh aurel dan abel sahabatku. Aurel juga yang sudah meyakinkan mama dan papa. Aurel juga yang sudah mengundang orang tuanya datang hanya untuk moment special di hari ulang tahun ku ini. Dan hari ulang tahun berubah menjadi hari menyenangkan yang mngubah semua jalan hidupku. Terima kasih aurel.
By letter_y
Name: Elvi Widia Arosa
Nickname : Yosha
Born : at 1988, 3 April in Payakumbuh SUMBAR
Collage : STKIP PGRI SUMBAR at English department.
Hobby : Utak atik laptop, nulis, browsing, dan juga baca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar