Total Tayangan Halaman

Rabu, 22 Juni 2011

cerpen bagian 7

                                                            SENJA
Namaku senja. Bukan berarti aku lahir di sore hari yang penuh mega. Tapi justru di pagi buta, subuh yang dingin sangat membahana. Namaku senja. Bukan berarti aku kelam sekelam awan sore yang menyambut malam yang suram. Tapi justru aku sangat indah, mengalahkan indahnya mentari di ufuk yang selalu memperlihatkan separoh raganya yang membuat penasaran setiap mata yang memandang.
Namaku senja dan inilah kisahku. Berawal dari pertemuanku kembali dengan seorang teman lama di jejaring sosial facebook. Tania! Aku dan tania adalah salah satu bukti dari perubahan zaman yang sangat mahal bila harus di bayar dengan uang. Tak jauh beda dengan tania yang memiliki latar belakang mandul tentang ajaran agama, aku pun sama. Bagiku dan keluarga pelajaran agama hanya kami dapat di lingkuangan sekolah, dan itu pun hanya dua jam setiap minggu nya. Rasanya tak cukup bila ajaran yang hanya dua jam setiap minggu itu ku jadikan sandaran untuk jalan hidupku. Buktinya, aku terjerumus dalam dunia kelam yang sangat buruk. Tak ada yang bisa ku salahkan, tak ada yang bisa ku kambing hitamkan, dan tak ada yang bisa ku petik pelajaran. Bagiku, hidup itu hanya rekayasa dan berpura-pura. Tapi hidup tania lebih buruk lagi dibanding aku. Orang tua tania adalah pasangan gigolo dan mucikari. Abang dan adiknya adalah penjahat kecil di sekolah mereka masing masing. Tapi syukur, tania masih memiliki salah seorang adik yang tidak terkontaminasi oleh kehidupan keluarga mereka yang seperti kehidupan syetan. Moli sengaja disekolahkan di Pondok Pesantren di Pulau Jawa. Sejak kecil moli memang tidak dibesarkan di dalam lingkungan keluarga tania. Tapi bukan berarti moli tidak tau tentang keadaan keluarganya. Bahkan tak jarang moli menjadi bahan olok-olokan oleh teman-temannya. Tapi moli memang beda, dia tidak pernah mengubris ocehan itu. Baginya, ocehan orang-orang adalah cambuk untuk hidupnya. Tania sangat menyayangi adiknya. Bagi tania, moli adalah malaikat kecil yang nanti akan membawa cahaya baru dalam keluarganya. Dan semoga moli mampu membuktikan suatu hari nanti.
Aku dan tania dulunya satu SMA. Tapi sayang, kami terpisah saat memasuki perguruan tinggi. Aku masuk ke Perguruan Tinggi Swasta ternama di kota ini, dan mengambil jurusan Desain Grafis. Sedangkan tania lebih tertarik dengan Ilmu Ekonomi, dan lebih memilih kuliah di luar kota. Alasannya karna dia tidak ingin tinggal bersama orang tuanya. Aku memahami keinginan tania. Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu lagi secara langsung. Hanya sekali saja tania menghubungiku. Saat itu awal semester. Tania mengabari bahwa dia merasa nyaman berada di lingkungan, teman-teman dan kehidupan yang baru. Katanya lagi, dia lebih merasa menemukan jati diri. Aku senang mendengarnya, sekurang-kurangnya tania bisa melupakan masa lalu dan kehidupan keluarganya yang sangat membuatnya tersiksa. Hanya sekali itu saja aku mendapat kabar dari tania. Dua tahun sudah sejak saat itu. Hingga suatu hari, secara tak sengaja aku menemukan account fb atas nama peri kesepian. Setelah ku amati, seperti nya aku mengenal foto yang yang terpampang di profil peri kesepian. Tania!
Ada perasaan senang. tapi juga ragu, apakah benar foto seorang perempuan dengan kostum serba hitam itu adalah tania. Tapi aku tetap penasaran, aku pun menambahkan tania sebagai teman di fb. Beberapa hari berikutnya aku menerima pemberitahuan bahwa peri kesepian telah menconfirmasi pertemanan ku. Ku kirimi tania pesan inbox di fb dengan harapan tania akan membaca. Besoknya aku menerima balasan pesan singkat di inbox
“Hy jaja’….iyah ini qw tata’….lo apa kabar? lama ga’ ketemu ya. Gimana kuliah lu?”
Memang seperti itulah cara kami memanggil satu sama lain. Aku dipanggil jaja’ dan tania ku panggil tata. Senang sekali rasanya mendapat balasan dari tania. Sejak itu kami pun kembali akrab. Berbagi nomor telfon, dan berbagi cerita satu sama lain. Sepintas tidak ada yang berubah dari tania. Suatu hari aku berjanji akan mengunjungi tania di luar kota, sekalian liburan. Tania pun menyambut dengan senang. Akhir october 2009 aku mengunjungi tania di luar kota. Kami saliang berpelukan. Aku sangat rindu kepada sahabat lamaku itu, dan sepertinya tania juga merasakan. Kami saling bercerita layaknya seorang sahabat yang telah beberapa lama tidak bertemu. Setelah itu tania mengajak ku ke kontrakannya di suatu tempat. Dan memang sesuai rencana aku akan menginap di tempat kontrakan tania untuk beberapa minggu. Tania banyak becerita tentang kehidupannya di sini. Tania juga mengatakan sejak keberangkatannya dulu, hingga saat ini dia tidak pernah mengunjungi orang tua nya, termasuk moli malaikat kecil harapan tania. Yang tania tau hanya satu, orang tuanya sekarang di penjara, abang nya mengidap penyakit aids karna jarum suntik, sedang adiknya sekarang mengikuti kehidupan liar punk, dan masih moli yang tetap menjadi malaikat. Moli masih meneruskan belajar di Pondok Pesantren.
“Ta, low di sini tinggal ma siapa?” Tanyaku sesampai di kontrakan tania yang terlihat sangat berantakan.
“Sendiri! Kadang ada beberapa temen yang nginep di sini.”balas tania, sembari merapikan bekas botol minuman keras di meja.
“Lu masih tetap suka minum ya,Ta?”tanya ku lagi.
Tania hanya mengangguk. Aku tau betul siapa tania. Sejak SMP tania telah mengenal yang namanya minuman keras. Di rumah tania. Bir, wisky, wines, vodca, dan semua jenis minuman lainnya adalah suguhan yang halal. Sembari memperhatikan semua sisi kontrakan tania, ada satu pemandangan yang membuat ku bertanya
“Ta, lu make’ ya! how come?” tanyaku lagi sedikit heran.
Nampak tania sedikit panik. Tanpa menjawab apa-apa tania membuang alat hisap ke tong sampah. Aku hanya menggelengkan kepala. Beberapa saat kemudian beberapa laki-laki yang masih seumuran denganku dan tania datang. Beberapa lagi mungkin malah lebih muda di banding kami. Tania pun memperkenalkan teman-teman nya satu persatu. Aku terkesima ketika berkenalan dengan seorang teman tania. Elang.
Elang ternyata seorang mahasiswa jurusan desain grafis di salah satu perguruan tinggi negri, berarti sama dengan ku. Perkenalan itu membawaku ke dunia lain. Cinta. Elang memberi peluang indah untuk hatiku. Selama liburan di luar kota bersama tania dan teman-temannya, secara tak langsung mengubah gaya hidupku. Aku menjadi akrab dengan dunia malam, menjadi terbiasa menyaksikan tania dan teman-temannya menggunakan heroin, narkoba, apalagi minuman keras sudah menjadi kewajiban bagi mereka. Aku tidak mengerti kenapa aku serasa nyaman berada diantara mereka. Bagiku saat itu selagi mereka tidak menggangu dan mempengaruhiku, it’s ok! Dan satu hal yang membuatku heran, elangku juga bagian dari mereka. Pernah suatu hari aku mencoba membahas masalah ini bersama elang. Tapi seperti nya elang sudah kebal dengan ajaran-ajaran itu. Dia malah menjugde ku sok suci. Apapun yang dilakukan elang toh tetap tak bisa merubah hatiku yang telah terpaut pesona matanya. Aku tau sebenarnya mereka adalah orang-orang yang terpaksa untuk menjalani hidup seperti itu. Contohnya tania, seperti yang telah banyak ku ceritakan di atas. Tak jauh beda dengan elang, perceraian orang tua membuatnya broken home. Elang dan adik-adiknya hidup terpisah. Mungkin elang merasa tak cocok hidup dengan ibunya yang setiap malam selalu pulang mabuk-mabukan dengan para pria hidung belang. Elang lebih memilih hidup dan tinggal sendiri. Aku merasa masih bersukur, meskipun mama dan papa sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, dan juga sering bertengkar hanya karna perbedaan prinsip. Tapi mereka masih bisa bertahan hidup bersama demi anaknya. Banyak hari-hari indah yang ku lalui bersama dengan elang, juga tania. Suatu malam, saat merebahkan diri setelah seharian berjalan-jalan dengan tania dan teman-temannya.
“Ta, qw kayak nya dah suka banget deh ma elang!” kataku ragu memulai pembicaraan.
“Apah?gak! lu gak boleh suka ma dia, apalagi pacaran ma dia!” bantah tania tanpa ragu.
“Kenapa? Qw suka ma dia! Qw gak peduli dia kayak gimana, yang qw tau qw sayang ma elang!” balas ku lagi.
Tania terdiam, aku juga terdiam. Dalam hati aku tak peduli tentang tania. Yang kutau, aku sangat menginginkan elang untuk menjadi milikku. Aku tak peduli alasan tania melarangku untuk menjalin hubungan bersama elang.
“Ja’ Elang itu gak baek buat lu! Elang itu sama kaya’ qw! rusak, qw gak mau lu ikut-ikutan kayak qw. Qw pengen, besok lu balik pulang!” perintah tania.
Aku heran melihat sikap tania. Makin heran lagi saat tania menyuruhku kembali pulang dan mengakhiri liburan yang menyenangkan ini. Ada apa dengan tania, ada apa dengan elang. Aku tau mereka rusak, aku tau elang pemakai, tapi aku tak peduli. Aku inginkan elang menjadi milikku.
Keesokan harinya ku datangi elang di sekitar kawasan kampusnya, tapi elang tak kunjung datang. Bahkan sudah tiga jam aku berdiri di sini, tetap elang tak datang. Kemana dia? Lalu aku memutuskan untuk kembali ke tempat tania. Sepanjang perjalanan yang ku bayangkan hanya lah wajah elang, yang telah berani memahat namanya di hatiku. Tapi sepertinya, khayalan itu akan segera berakhir. Betapa kaget nya aku saat melihat tania dan elang di depan mataku bercumbu dengan sangat mesranya. Inilah alasan tania melarang aku menjalin hubungan dengan elang. Entah apa yang harus aku lakukan saat itu. Memaki-maki tania, atau elang? Atau aku berlari di sepanjang jalanan dan berteriak seolah-olah aku gila karna cinta elang? Entahlah, yang bisa ku lakukan saat itu adalah memejamkan mata dan berharap itu hanya mimpi. Tapi aku salah, ini kenyataan. Kenyataan yang akan merubah jalan hidupku. Kenyataan yang akan  menjadikan aku onggokan daging yang tak berguna.
Tanpa berkata apa-apa, aku berbalik dan berjalan gontai. Aku tak tau harus kemana. Langkahku tertuju ke sebuah pab yang biasa kami datangi. Aku puaskan hasratku, ku lampiaskan kekesalanku, dan ku maki-maki hatiku. Malam itu juga akan akan mengubah jalan hidupku. Tak ada yang kuingat, selain seorang pria dengan wajah samar mendatangi dan memapahku yang sempoyongan. Entah apa yang ia lakukan. Keesokan paginya, aku terbangun tanpa busana sehelai pun ditubuhku. Aku menangis. Bagiku hidupku berakhir saat pagi yang indah itu. Aku pulang dengan rasa dendam. Bayangan tania, elang tertawa bebas menemaniku di sepanjang perjalanan. Aku membenci diriku sendiri. Aku memang pantas bernama senja. Karna mulai detik ini, hidupku kelam sekelam senja yang akan menjelang malam.
                                                            xxx
Mama tak akan bertanya akan keadaanku. Karna bagi mama apapun yang ku lakukan, takkan ada gunanya. Dia akan lebih peduli jika gucci antiknya dipecahkan oleh bik minah. Selama seminggu dia masih akan meratapi gucci mahalnya. Papa apalagi, dia hanya peduli jika sahamnya bertambah dan pundi-pundinya menggunung. Dua bulan sudah pasca kejadian itu. Aku masih bermusuhan dengan diriku sendiri. kuliahku berantakan. Aku sudah tak peduli lagi dengan norma. Aku ingin elang dan tania tau, mereka yang menjadikan hidupku sekelam namaku. Tapi aku tidak boleh egois, karna bisa saja tania ingin melindungiku saat itu. Entahlah, yang pasti aku benci mengenang hari itu. Aku benar-benar tak bisa terkontrol. Pergaulanku terlalu bebas. Aku menghabiskan hari-hariku untuk berkumpul dan menghisap ganja, heroin, narkotika bersama teman-temanku. Di sinilah aku bertemu sosok edo yang mengingatkan ku kepada elang. Edo dan aku semakin gila dalam kegilaan-kegilaan yang tidak bisa di lukiskan oleh kata-kata. Namun edo takkan sama seperti elang, karna edo jauh lebih buruk. Tapi aku sudah tak peduli dengan hidup, karna seperti kataku, hidup hanya rekayasa dan berpura-pura. Bagiku surga itu saat aku di buai oleh aroma ganja, di mabukkan oleh serangan wine, dan di hibur oleh rintihan kesakitan karna barang haram itu. Suatu malam yang mencekam, aku bermimpi tentang sosok elang dan tania. Mereka berada dalam kesulitan dan memintaku untuk menolong mereka. Tapi mimpi itu berlalu begitu saja dari ingatanku. Bagiku, mereka tidak hanya menganggu hidup, tapi juga menjelma dalam mimpi-mimpiku. Sepertinya mereka benar-benar ingin menjadi musuh batinku. Malam berikutnya mimpi yang sama membangunkan ku dari tidur, tatkala subuh mulai menyingsing. Ini benar-benar tak bisa ku biarkan. mengizinkan mereka yang menyiksa batinku bermain dan menyelinap ke dalam mimpiku dengan sesuka hati mereka. Tapi jauh dari lubuk hati terdalam, aku sangat menyayangi mereka. Haruskah aku mengurangi frekuensi egoisku, dan menemui mereka. Tapi bagaimana dengan hatiku? Akankah, aku sanggup menatap wajah mereka yang telah menyakitiku? Hatiku membela mereka, adaapa dengan hatiku! Ku kuatkan hati dan meredam dendam ini. Aku memang harus menemui mereka. Ku coba hubungi nomor tania tapi tak ada jawaban. Begitu juga elang. Tanpa pikir panjang dan ku bulatkan tekat untuk mendatangi mereka di luar kota. Ku datangi kontrakan tania. Betapa kagetnya aku saat melihat kontrakan tania dipenuhi garis polisi. Aku heran, apa yang telah terjadi dengan tania?
                                                        xxx
Betapa terkejutnya aku saat mendengar penjelasan dari warga setempat. Air mataku tak tertahankan, senyum mereka begitu kental di ingatanku, tania dan elang meninggalkan aku dalam kesengsaraan karna ulah mereka. Hatiku menjerit, batinku semakin menjadi-jadi untuk bersedia terluka. Tania, elang dan dua orang temannya meninggal karna overdosis, dan beberapa yang lainnya dilarikan ke Rumah Sakit. Aku masih ingin mencoba cara lamaku. Memejamkan mata dan berharap ini hanya mimpi, tapi sekali lagi aku salah. Ini kenyataan. Aku semakin terpuruk dan merasa bersalah. Kenapa mimpi di hari pertama ku hiraukan saja. Aku hanya bisa menangisi penyesalan ini. Aku semakin merasa terpuruk lagi saat aku mengetahui tentang kehamilanku. Hidupku semakin tak jelas. Ditambah lagi edo meninggalkan aku. Hidup ini memang tak adil bagi orang-orang seperti ku, elang dan tania. Hidup begitu mahal bila harus menjalankannya seperti cara kami. Hidup memang tidak pernah mengenal kata maaf. Hidup ternyata penuh dengan kesengsaraan. Mungkin akan lebih baik jika aku harus menemani tania dan elang di sana. Aku hanya memiliki mereka, aku akan menebus kesalahanku karna mengabaikan mimpi di hari pertama. Aku ingin menyelesaikan rekayasa dan kehidupan yang penuh kepura-puraan ini. Aku lelah dengan semua ketidakpastian. Aku muak dengan kehidupanku yang seperti mawar hitam tak bercahaya. Aku hanya ingin tersenyum tanpa rasa sakit. Meskipun aku tau dosa ku setinggi gunung Alpen di Eropa. Nama ku senja. Bukan berarti aku akan selalu indah seindah namaku. Namaku senja. kisahku mendung tanpa mega. Aku lah senja. Letakkan mawar putih di nisanku kala senja.
                                                                                               
                                                                                                     By : Tinkerbell zerosix




Tidak ada komentar:

Posting Komentar