MENCINTAI ADALAH MEMILIKI
Kata orang “mencintai bukan berarti memiliki” tapi untukku “mencintai, berarti harus memiliki semua hal tentang nya.” tak peduli aku di bilang egois, mau menang sendiri, bahkan di katakan menyalahkan aturan yang telah di tentukan tuhan. Tapi yang pasti bagiku “mencintai adalah memiliki.” Sama halnya seperti kisahku berikut ini.
Dia mungkin tak seindah yang di bayangkan oleh orang orang yang mengenalku. Dia mungkin tak sehebat perkiraan orang, bahkan dia juga tidak segagah apa yang orang sangka. Orang orang akan berfikiran seperti itu karna aku selalu menyanjungnya dalam keadaan seperti apapun itu. Aku selalu bersikap seolah dia adalah orang terindah, hebat, bahkan gagah. Aku tak pernah memperlihatkan atau menceritakan kelemahannya. Aku bangga memilikinya. Bukan karna apa apa.
Tiga tahun yang lalu, kalau aku boleh bercerita. Dia hadir begitu saja dalam hidupku, namanya Lintar, sosok yang tenang, terlihat sekali dari raut wajahnya yang damai. Lintar tak hanya mengalihkan dunia ku, tapi juga seluruh pundi pundi hatiku terkuras hingga tak tersisa untuk pria lain selain dia. Sekali lagi ku jelaskan, dia bukan Robert pattinson idolaku, juga bukan justin bieber, tapi dia adalah lintar orang nomor satu di hatiku. Kata ibuku “hatimu memang satu, tapi hati yang satu itu harus kau bagi dan setiap bagian itu, jadikan mereka yang nomor satu.” Maka Lintar juga mendapat bagian posisi yang mahal itu di hatiku. Saat itu usiaku 22 tahun, memang terlalu jauh jarak usia kami. Lintar seorang pria tenang kelahiran 1980, jarak 8 tahun itu yang menjadikan lintar sosok panutan untukku yang masih berusia 22 tahun. Banyak sekali perbedaan yang terlihat antara aku dan Lintar.
Lintar tidak suka mencoba sesuatu yang baru dalam hidup, sedang aku adalah sosok wanita yang memiliki imajinasi tinggi yang ingin merasakan semua hal yang baru, meskipun aku tau itu akan mengancam diriku. Lintar juga tida suka berbasa basi, sedang aku adalah type kebanyakan wanita asia, suka berbasa basi. Lintar juga tidak suka menonton film yang bergendra cinta, hidup, bahkan persahabatan, dia lebih suka sesuatu yang real, seperti menyaksikan warta berita di chanel stasiun TV nasional. Sedang aku, teman temanku menjuluki dengan sebutan “ sang penonton.” Aku rela berjalan kaki hanya untuk meminjam CD untuk sebuah film new realist. Lintar tidak suka kebohongan, meski sesekali aku tau dia berbohong padaku. Sedang aku adalah seorang wanita yang terkontaminasi oleh adegan adegan di setiap film yang ku tonton, penuh dengan bualan, kebohongan, bahkan penyiksaan batin.
Saat film itu sedih maka aku akan terbawa ke dalam dunia yang penuh dengan awan kelabu, saat film itu bercerita tentang percintaan, aku terbawa dalam khayalan berharab lintar akan melakukan hal yang sama, sebagai mana di lakukan oleh pria bintang utama di film itu. Meskipun aku tau takkan pernah ku dapatkan seorang lintar yang penuh dengan keromantisan. Tapi seperti yang ku katakan aku tak pernah peduli karna lintar adalah orang nomor satu di hatiku. Hari itu lintar mengajak ku ke suatu tempat
“andai kamu tau, telah lama aku ingin mengajak mu ke tempat ini.” Katanya mengawali pembicaraan di saat aku masih terperangah menyaksikan indahnya panorama perbukitan.
“aku tidak menyangka, ternyata seorang lintar yang dingin mengagumi keindahan perbukitan.” Kataku padanya.
“kau ingin tau lagi apa yang ku kagumi selain indahnya panorama perbukitan ini?” lintar
“apa?” jawabku sembari menggosokkan kedua telapak tangan ku yang terasa dingin karna hawa perbukitan.
“kamu!” katanya lagi padaku.
Aku terperangah, sosok yang selama ini ku anggap tidak akan pernah memihak pada cinta, ternyata hari itu mengutarakan perasaannya yang telah lama ia sembunyikan di relung terdalam hatinya.
“are you kidding me?” aku mencoba memastikan perasaan itu.
“aku tidak type pria yang suka berbasa basi tita!” bantahnya.
Aku menghela nafas terpanjang saat itu. Tak mengerti, tak pernah ku pahami, aku dan lintar akan menjadi sepasang anak manusia yang terpaut dalam ikatan pacaran. Tapi aku ragu, bukan kepada lintar, tapi lebih kepada hatiku. Aku bukan seorang wanita yang sempurna, aku tidak lebih dari pada seorang wanita yang hanya mengagungkan imajinasi dan mimpi mimpi dan kemudian menyatukan mereka halam harapanku yang panjang. Bahkan aku cendrung jenuh, serta mencoba sesuatu yang baru adalah bagian dari hidupku. Tak terkecuali dalam urusan asmara. Dan harus ku akui sosok seperti lintar sangat tidak cocok dengan gaya hidupku yang serba berimajinasi, bermimpi dan terbuai dalam semua bayangan itu.
Lintar membuyarkan lamunanku
“hey! Are you okay?”
“yeah! I’m okay!” balasku singkat.
“so?” lintar
“so what?” aku sedikit mencoba untuk menghilangkan rasa grogiku di hadapan lintar yang sangat tenang.
“tentang perasaan!” lintar berkata seolah matanya juga ikut berbicara.
“sorry lintar, I can’t answer your question now!”jawabku terbata bata.
Terlihat sekali wajah lintar sedikit berubah, mungkin dia kecewa, atau mungkin dia sedang memaki maki ku lewat hatinya. Entahlah, yang pasti aku takut memandang matanya, begitu dalam tatapan nya terhadapku.
“that okay!”mungkin aku terlalu terburu buru, maaf!” lintar mencoba menjelaskan padaku.
Hari itu hanya berakhir dengan keheningan, di puncak bukit yang riuh dengan suara suara alam. Aku mencoba kembali membuka lembaran hari hari yang terlewatkan bersama lintar saat itu. Aku tidak percaya lintar berani mengutarakan perasaannya. Lintar tak pernah muncul setelah hari itu. Bahkan di saat ulang tahunku, lintar tidak juga melihatkan batang hidung nya. Ada satu rasa yang tak ku mengerti. Rasa rindu, rasa ingin menjumpai lintar saat itu juga. Tapi aku tau aku telah mengatakan hal yang tidak mungkin ku tarik kembali.
Suatu pagi hanphone ku bordering, lintar! Lalu apa yang harus ku kata kan?
“hallow!” terdengar suara yang sedikit berat di seberang sana.
“hy, tar. Are you okay?” balasku
“yeah, kamu gimana?” dia masih seperti lintar yang dulu, selalu menyapaku dengan hangat, tak ada yang berubah darinya kecuali kehilangan nya beberapa minggu itu.
“kamu di mana tar? Kenapa, saat ulang tahun aku, kamu ga’ dating?” kataku memberanikan diri untuk bertanya.
(hening)
“aku di luar kota, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan.” Jawabnya tenang.
“kerja? Bukannya kamu masih belum tamat kuliah?” balaskan basa basi.
( hening)
“yeah, pekerjaan yang selama ini terbengkalai, selama ini aku terlalu di sibukkan oleh harapan harapanku yang tak pasti, waktu ku pun banyak terbuang untuk hal itu. Tapi pada akhirnya aku tak mendapatkan apa apa.” Lintar menjelaskan panjang lebar.
Aku tau tujuan dari pembicaraannya adalah aku, hatiku yang tak terbuka untuknya, perasaanku yang beku padanya. Tapi lintar tidak tau kenapa aku menjadikan itu sebagai pilihanku. Dan lintar juga tidak tau betapa deras air mataku membasahi ganggang telfon.
“aku tau, aku tau lintar, aku tau kamu pergi karna aku. Tapi kamu ga’ ngerti kenapa harus seperti itu.”
Ku matikan telfon setelah mengatakan kata kata yang mungkin membuat lintar bingung, dan mungkin besok akan mencariku. Mencari tau kenapa aku berkata seperti itu.
Sekarang giliran aku yang menghilang. Ingin rasanya menjauhi semua ini, atau mungkin mengulang waktu yang telah berlalu, mengembalikan semua ke asalnya. Tapi semua telah terlambat. Setelah seorang sahabat menyakiti hati dan menghancurkan masa depanku.
Aku mempunyai seorang sahabat karib. Hubungan kami sangat dekat, persahabat yang kami mulai sejak dari taman kanak kanak berlanjut hingga awal awal semester satu perguruan tinggi. Bahkan di sekolah saat SMU juan dan aku menjadi icon persahabat sejati di sekolah saat itu. SMU BINA KARYA. Juan telah ku anggap sebagai abangku sendiri, hingga rasanya tak adalagi rasa canggung, rasa malu saat bersama juan. Tapi juan ternyata bukan sahabat sejati. Persahabatan yang terjalin 13 tahun harus berakhir tragis seperti ini. Juan juga penganut slogan “mencintai berarti harus memiliki” sama seperti ku. Karna kata kata itu juga kini juan harus meringkuk di penjara. Hari itu sabtu, berarti kami pulang dari campus lebih awal. Seperti biasa, aku dan juan selalu pulang bersama. Memang hari itu cuaca sangat mendung
“wah, mo ujan nih ta!”kata juan padaku.
Aku hanya mengangguk sambil meneguk minuman di tangan ku.
“kita kerumah qw aja yuk!” ajaknya santai.
“wah ide bagus tuh, kali ajah nyokap lu masak ikan gurame lagi, boleh tuh..” balasku merayu.
Dan kami pun berlari lari kecil pulang menuju rumah juan yang terletak tak begitu jauh dari campus. Sesampai di rumah ternyata rumah dalam keadaan kosong. Juan memanggil manggil mama nya tetap tak ada sahutan. Saat itu jua juan mendapat sms dari mamanya yang mengatakan keluarga nya pergi ke bogor untuk menjenguk eyang yang penyakitnya kambuh lagi setelah meminum susu. Juan menghela nafas panjang. Aku masih sibuk dengan cemilan di ruang makan keluarga juan. Selang beberapa waktu juan menghampiriku dan kelihatannya dia sudah berganti pakayan. “ta…tita….woy..tita!” juan meneriaki ku yang sedang asyik mendengarkan music dari i-pot.
“apah?” balasku santai.
“qw mau ngomong!”
“ngomong apa loh?”
“qw suka ama loh!”
Aku hanya diam.
(hening)
Aku mencoba mencairkan suasana.
“wah…ga’ waras neh. Qw loh taksir!” balasku sambil berpindah ke ruang keluarga dan menikmati acara televisi.
Juan mengikuti dan menarik badanku. Seketika aku terperangah dan kaget terhadap kelakuan juan. Juan semakin erat memegang bahuku. Aku berusaha melawannya tapi juan terlalu kuat untukku. Juan melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan terhadapku, juan telah merampas harga diri dan kehormatanku. Juan yang selama ini ku anggap sebagai abang berani melakukan hal buruk terhadapku. Juan hanya mengatakan sepatah kata
“jika dengan ini aku baru bisa memilikimu, maka aku harus melakukannya. Karna bagiku mencintai berarti memiliki!”
Persidangan demi persidangan di jalankan oleh juan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sedang aku, terbaring di rumah sakit karna perbuatan juan. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan kekhilafan juan. Dan sekarang aku harus menerima kenyataan lain, aku harus mnegubur semua imajinasiku, membuang semua impian ku bahkan untuk hal terburuk sekalipun lintar tidak akan mau melihatku lagi jika sampai dia tau tentang kisahku yang buruk. Karna itu lah aku tidak ingin menjadikan seorang lintar bagian dari hidupku. Karna aku memang tidak sempurna. Tapi apapun keadaannya aku harus bicara jujur kepada lintar, meskipun lintar akan meludahi wajahku dengan ludahnya yang masih suci.
Hari itu, setelah tiga minggu kepergian ku. Aku mencoba menghubungi lintar dan meminta lintar menemuiku. Maka aku akan menjelaskan semuanya. Saat menatap mata lintar, nyali ku ciut, aku tak ingin membongkar rahasia ini karna sebenarnya aku ingin memiliki lintar karna aku mencintainya. Aku mencoba merangkai kata seindah mungkin, agar lintar tidak terlalu cepat meninggalkanku. Setelah memuntahkan semua apa yang ku pendam suasana hening menghampiri kami. Lintar tak berkomentar apa apa, tidak juga marah padaku. Aku benar benar pasrah saat itu. Kupejamkan mataku dan berharap lintar akan pergi menjauhiku, dan saat ku buka mata lintar benar benar telah pergi. Tapi aku salah, lintar masih berdiri kaku di hadapanku dengan air mata yang jatuh membasahi lantai di hadapannya. Aku benar benar tidak percaya lintar merangkulku erat dan membisikkan kata
“bagiku mencintai berarti harus memiliki semua hal tentang mu!”
Lintar benar benar orang nomor satu di hidupku, yang menyelamatkan semua imajinasiku, semua mimpi mimpiku, bahkan separoh harapanku kembali hidup olehnya.
By: letter_y
Tidak ada komentar:
Posting Komentar