Journal Aunty
“Tasya…………………”
“Grrrrhh……..pasti Aunty neah!”
Tidak pernah ada kata damai dalam hidupku dengan Aunty Melly. Tante tante tua yang cerewet, keriput, ga’ laku laku. Semua kata kata itu sudah kebal di telinga nya.
Aunty melly adalah adik mama yang paling kecil. usianya sudah kepala tiga. Tapi hingga detik ini belum memiliki caon bahkan pacar pun tidak ada. Beda sekali dengan kakak ku Luna. Begitu menamatkan kuliah S1 nya di UI mas Tora langsung meminang dan memperistri kak luna 3 tahun yang lalu. Sekarang kak luna sudah memiliki baby yang berusia satu setengah bulan. Hal ini menambah geram Aunty Melly. Sebenarnya Aunty Melly adalah seorang Aunty yang baik hati, meskipun sering ngomel ngomel ga jelas.
Sejak mama dan papa memutuskan untuk stay di Belgia, karna pekerjaan papa di kedutaan, Aunty Melly lah yang menjadi pengganti mama. Setiap hari mama menelfon, webcam, meskipun hanya untuk menanyakan tentang pelajaran sekolahku. Sedang kak Luna lebih memilih tinggal di luar kota karna mas Tora yang bekerja sebagai Accounting di sana. Jadilah aku hanya tinggal berdua dengan Aunty Melly di rumah. Meskipun ada seorang pembantu Bik Taty namanya. Bik tati orang nya juga baik, sudah 23tahun pernikahannya Bik Taty belum juga di karunia anak. Makanya Bik Taty sangat sayang padaku.
Oya aku tasya. Seorang pelajar kelas tiga SMA yang sebentar lagi akan masuk ke perguruan tinggi, mama meminta aku untuk kuliah di Belgia. Tapi aku merasa iba meninggalkan aunty sendirian. Dan setiap mama menanyakan hal itu selalu ku jawab
“Nanti kalau Aunty udah punya suami baru ke Belgia!”
Sebuah Perguruan Tinggi Negri sudah menungguku, aku lulus dalam seleksi PMDK jurusan sastra jerman. Dan itu adalah impian ku. Hanya saja yang harus ku lakukan sekarang adalah berkonsentrasi untuk menghadapi UN tiga minggu lagi. Semua sudah ku persiapkan, buku buku yang berkaitan dengan UN telah ku beli, les dan privatku juga semakin ku gencarkan. Berhubung Aunty adalah seorang guru Bahasa Inggris jadi untuk urusan mata pelajaran Bahasa Inggris aku tidak usah repot repot lagi les ini les itu.
Semua orang di rumah sibuk mengurusiku, karna besok pagi adalah ujian hari petama. Mama juga menelfon dan wanti wanti agar tidak luba bawa peralatan ujian. Kak Luna juga minta izin kepada suaminya agar beberapa hari selama aku ujian menginap di rumah.
“Tasya, remember one think! If your answer fill good. you must choose that!” perintah Aunty saat sarapan pagi.
“Iyah……” balasku singkat.
“Eit………Tasya…jutek gitu ama Aunty tar ga dapet loh ujian nya!” sambung kak Luna.
“I’am so sorry Aunty, I hope you don’t angry with me!” tadahku lagi.
Sesampai di dalam ruangan rasa nervous ku kambuh lagi. Tapi untung lah semua soal ujian pagi itu dapat ku jawab dengan baik. Begitupun dengan hari hari berikutnya. Dan aku lulus 100%. Semua ini berkat aunty, mama kak luna yang selalu mengingatkanku setiap malam untuk tetap mengulang pelajaran.
“Tasya itu baju kok di buang sembarangan. Taroh di tempatnya donk, belajar disiplin, jangan asal asalan, sebentar lagi kamukan udah mahasiswa berarti harus bisa ngurus diri sendiri!” hardik Aunty Melly saat melihat semua baju kotor ku berserakan di lantai. Aunty memang orang nya perfectionis. Mungkin karna hal itu juga Aunty sering menolak lamaran dari setiap pria yang datang. Yang terakhir seorang pria bernama Bambang seorang karyawan Bank yang di tolak mentah mentah hanya karna kancing baju nya lepas dan diganti dengan peniti.
“Oqh my gosh……..Aunty udah keterlaluan, padahal wajah nya ga’ jelek jelek amat.” gumamku.
Sejak itu belum pernah ku lihat pria yang datang untuk melamar bahkan untuk menjadikan Aunty pacarnya.
“Aunty, padahal mama minta aku buat kuliah di Belgia ajah, tapi gara gara Aunty belum dapet pacar gagal de!” kataku pada Aunty saat jam makan malam.
Aunty hanya diam. Mungkin dia merasa tersinggung atau dia kasian dengan ku. Lalu seketika Aunty meninggalkan meja makan. Aku hanya bisa mengerutkan kening dan berfikir
“Apa kata kata ku ada yang salah ya?”
Sepanjang malam hanya itu yang ku fikirkan bahkan untuk menemui Aunty yang sejak makan malam tadi tidak pernah keluar kamar. Sampai melewatkan satu episode sinetron kesukaanya, dengan merasa bersalah keesokan paginya ku datangi kamar Aunty untuk minta maaf. Ternyata Auty sudah siap untuk berangkat ke sekolah buat mengajar.
“Aunty maafin Tasya, soal yang tadi malem. Habis nya kapan sih Aunty punya suami, liat tuh kak luna. Udah punya baby. Aunty ga pengan?” kataku mengawali pembicaraan.
“Eqh….kamu pikir cari suami itu gampang? Buat Aunty cari suami itu sama kaya cari baju. Harus yang ngerasa nyaman, ga’ rusak, masih baru, dan yang penting bahannya bagus!” jawaban yang sangat egois menyamakan pria dengan baju.
Tanpa berkata apa apa lagi aunty melangkah dan mininggalkanku sendirian di kamarnya. Sepertinya Aunty sudah berangkat. Saat berada di kamar Aunty Melly ada sesuatu yang menarik pemandangan mataku. Foto seorang pria. Aunty!
“Oqh my gosh……” ucapku kaget.
Siapa gerangan pria yang berada di figura foto itu, pacar Aunty?
Penemuan itu semakin membuatku penasaran untuk semakin menggeledah isi kamar Aunty. Ku cari sesuatu yang bisa menjelaskan kenapa hingga saat ini Aunty seperti anti dengan para lelaki
“Wait…..journal?” aku menemukan diary Aunty.
Tanpa merasa bersalah karna sudah lancang membuka journal orang lain. Ku baca satu persatu kata kata hati Aunty. Sepertinya journal ini di tulis sejak 5 tahun yang lalu.
2005 mai 03
Dear sweet journal…..dia mengatakan satu hal yang selama ini ku tunggu tunggu.
Oqh my gosh……he is my couple?? I hope yeah….and I can trust him.
I love him………..
So much………………
Thank to god.!
He is “ LANGIT”
2005 MAI 30
Dear journal couple !!!!!!
Dia kasih cincin…………..so sweet!!!!!!!!!!!
2005 juni 27
Dear sweet heart,
I can’t believe it………..langit menghilang!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Gosh……………jangan biarkan dia pergi begitu cepat, semoga mereka menemukan langit!
Langittttttttttttttttt……………..I m waiting 4 you dear……….
2005 juli 30
Gosh……………..Im lose him!!!!!!!!!!!!!!!
Berita itu pasti salah!
2007 januari 01
Dear journal:
Setahun kepergian langit, aku tidak ingin mengenal siapa siapa lagi! Kenapa kau ambil langit begitu cepat???
Aku berteriak di antara karang karang itu. Tapi tak kau munculkan sosok langit di hadapanku tuhan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Aku tidak ingin memiliki siapa siapa lagi selain langit! Aku masih menunggu langit tuhan!
Kini aku sedikit paham kenapa Aunty lebih menutup diri kepada setiap pria. Karna baginya hanya Langit yang akan mengisi dan menjadi pendamping halalnya. Dan ku pandangi foto pria yang bersama Aunty. Langit!
Tapi Aunty tidak boleh terlalu larut dalam keterpurukannya mengenang Langit. Karna Langit sudah tenang bersama alam di sisi Tuhan. Ternyata Aunty menyimpan rahasia besar tentang hidupnya. Tapi aku bertekat akan melepaskan aunty dari derita ini.
Dari ruang tamu terdengar deringan telfon. Membuat ku tersadar bahwa aku telah lancang membaca journal Aunty. Aku kembali kan journal itu ke tempatnya. Dan menyegerakan diri untuk keluar dan mengangkat telfon.
“Hallow…” terdengar suara di seberang sana.”
“ Sya’ udah di siapin belum atribut buat ospek 2 hari lagi?” ternyata bunga.
Aku menjawab “Udah nga’ low gimana?”
“Udah! kalo gitu see you aja ya.”balasnya
Hari ini adalah hari pertama ospek. Aku dan Bunga asyik mendengarkan pemakalah dari seorang dosen.
“hey!!!!!!!! Berdiri!” oqh my gosh aku kaget.
Siapa yang berani menghardikku?. Ternyata salah satu senior yang sudah pasang aksi di belakang ku.
Aku berdiri dan berkata “ Ada apa kak?”
Ia menjawab “ Ada apa ada apa, kamu udah langgar peraturan ospek, siapa suruh pake sepatu belang belang?”
Aku kaget “ Maaf kak ini kan ga’ belang belang kak?” balasku.
“Hitam putih! Apa itu ga’ belang?” ucapnya sedikit geram.
Aku melongo kearah sepatu ku yang memang sedikit belang. Tapi itu hanya di bagian pinggiran sepatu ku apa itu salah?
“Karna kamu melanggar peraturan kamu harus berdiri di tengah lapangan basket sambil meneriakkan pancasila sebanyak 50 kali.” Perintah senior gila itu pada ku.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada senior aku langsung menjalankan perintahnya. Aku berjalan menuju ke tengah lapangan dan mulai mengucapkan pancasila ke keras kerasnya.
Terdengar dari kejauhan “ Suara mu kurang kencang!!!!!!!”
“Sialan apa aku harus mengeluarkan pita suaraku hingga lebih terdengar kencang di telinga nya? Aku sangat dendam pada senior yang satu ini. Siapa namanya? Awas saja kalau ospek sudah usai aku bales” ucapku dalam hati.
Dan setelah itu aku tak tau lagi apa apa.
“Sya…sya…sya….”aku mendengar seseorang memanggilku dari kejauhan. Apa ini mimpi?
“Sya…..syukurlah kamu udah sadar.” Ternyata Bunga.
“Aku kenapa?” Tanya ku heran dan sesaat aku ingat apa yang telah terjadi. Saat berada di lapangan aku jatuh pingsan, semua yang ada di sekitarku seolah berputar, beubah menjadi hitam dan pekat dan aku pun ambruk.
Kejadian hari ini membuatku sedikit kesal. Ulah senior yang tidak bertanggung jawab. Sepanjang perjalanan ke rumah hanya kata kata makian yang ku lontarkan kepada senior egois itu.
Sesampai di rumah. Ku dapati Aunty sedang melamun di kebun bunga koleksi Aunty.
“Gosh…..Aunty pasti mikirin sesuatu.” Ucapku.
Tapi ku biarkan Aunty dalam kesendiriannya. Ku langkahkan kai menuju lantai dua kamarku. Kembali yang terngiang adalah ulah senior yang harus membuatku pinsan di campus.
“Syiiet………” teriakku sembari melempar tas ke atas kasur.
Aku sangat geram, kesal, sakit hati. Tapi Aunty lebih penting, ku putuskan untuk kembali melihat Aunty. Ternyata sudah tidak ada Aunty lagi di kebun. Mata ku mencari kian kemari tapi takku temukan di mana Aunty.
“Bik liat Aunty?” Tanya ku saat melihat bik tati melintas di hadapanku.
Bik tati menjawab “ Oh tadi keluar non, mau ketemu teman katanya.”
Aunty mau ketemu teman? Siapa? Pacarnya? Pertanyaan pertanyaan itu seketika telintas di benakku. Lama aku menunggu kepulangan Aunty. Sekitar jam 21.15 terdengar bunyi suara mobil Aunty.
“Aunty pulang.” Bisikku.
Tanpa berkata apa apa Aunty langsung menuju kamar dan mengunci.
“Ada apa dengan Aunty?”Tanya ku dalam hati.
Keesokan harinya saat ospek hari kedua hal serupa terjadi lagi. Masih senior yang kemarin. Tapi hari ini ku acuhkan perintahnya, hingga membuatnya sedikit geram melihatku. Tapi aku tak peduli kalau pada akhirnya harus aku yang menderita. Berlanjut pada ospek hari ketiga hal teraneh terjadi dalam hidupku
“Hy……”seseorang memanggilku.
“Hy….” Masih tak ku hiraukan.
“Hy..budek yeah…..anak baru budek!” kata nya lagi.
Mendengar itu aku langsung naik pitam. Ku balikkan badanku
“Eqh……low mau apa? Kaya nya dari hari pertama low terus yang cari perkara ama qw!, maaf kak, tapi qw udah ga’ bisa nahan sakit hati qw! Terserah lo mau laporin qw!” hardikku.
Sepertinya dia sedikit heran melihat sikapku yang sedikit kasar. Tapi aku tak peduli. Dia mendatangi ku dan mengulurkan tangannya
Dan berkata” Maafin aku yeah, atas kejadian 2 hari yang lalu?”
Lama ku biarkan tangan nya menjulur di hadapanku. Rasa sakit hati ku masih belum reda, dan rasanya tidak bisa mengalahkan rasa itu.
“Qw Ronald.” Ternyata nama senior yang telah membuat aku pinsan itu Ronald?
“Tasya!” balasku jutek.
“Lo mau maafin qw kan sya?” balasnya lagi.
Aku berlalu tanpa berkata apa apa. Sepertinya dia sedikit kecewa. Aku tak peduli. Tapi jauh di lubuk hatiku ada satu rasa senang yang tak bisa ku gambarkan. Sepanjang perjalanan hanya senyum yang ku tebar sepanjang jalan, kadang kepalaku menggeleng geleng bila memikirkan kejadiaan hari ini.
Ternyata Ronald adalah ketua BEM di campus, ia salah satu kandidat terkuat saat pemilihan calon BEM periode kemarin. Aku mengetahui hal itu dari salah seorang temanku. Sepertinya Ronald juga merupan cowok idaman setiap mahasiswa di campus.
Siang itu di café:
Ronald menghampiriku, ada satu rasa gemetar di batinku
“Boleh gabung?” ucapnya sangat dekat di telingaku.
Aku kelabakan menjawab kata kata singkat dari Ronald. Tapi aku tak boleh terlihat takluk di hadapannya. Bagaimana pun rasa sakit hatiku masih belum bisa ku balaskan.
Aku menjawab “ Duduk ajah cefe bukan punya qw!” jutek.
“Idih. Jadi cewek kok jutek nya minta ampun!” balasnya dengan sedikit tersenyum puas.
Aku tak menghiraukan, meskipun sebenarnya hatiku berkata lain. Ronald makin asyik berbincang bersama Bunga dan Bintang sahabatku. Suasana yang sangat tidak bersahabat.
Aku berdiri dan melangkah sambil berkata “Nga Bintang! Qw duluan ya, mau ke perpus bikin tugas!” ucapku.
Aku pun meninggalkan mereka yang terlihat heran dengan sikapku.
Suatu pagi yang sangat cerah.
“Syeit……….ini mobil kenapa lagi nih?” hardikku sendiri di tengah jalan yang sesak lalu lalang manusia. Astaga mobilku mogok di tengah jalan. Sambil melihat kiri kanan berharab aku menemukan bengkel terdekat. Tapi nihil. Hp ku juga mati karna semalam aku lupa mencas. Aku hanya bisa duduk di pinggiran mobil sambil berharab seorang malaikat datang dan menolongku.
Sebuah mobil BMW silver berhenti tepat di depan mobilku. Ada sedikit rasa takut kalau kalau yang berhenti itu adalah penjahat, tapi ternyata seorang mahasiswa yang wajahnya sangat tidak asing keluar dari alam mobil.
“Ronald!” dengan exspresi sedikit kaget.
Terlihat wajah jahilnya tersenyum puas melihat penderitaanku. Aku tidak suka dengan situasi ini.
“kenapa non? Mogok?” katanya seakan menghina.
“Ga….!”bantahku singkat.
“Ow…ya udah..kalau gitu qw pigi dulu ya, takut telat!” balasny sembari melangkah menjauhi ku.
Seketika rasa gengsiku hilang bila harus mengingat pagi ini aku kuliah dengan seorang dosen yang galak setengah mati. Ku kejar Ronald.
“Tunggu…………..”dengan rasa tersiksa karna menurunkan harkatku di hadapan senior yang telah membuatku pinsan.
Dia berbalik dan berkata “Mau nebeng?” ucapnya dengan sombong.
“Iya…qw telat.” Ucapku pelan.
Akhirnya pagi itu aku harus menumpang mobil Ronald hingga ke campus. Dan pulang nya Ronald juga menawariku katanya sekalin jemput mobilku di bengkel.
“Mau makan dulu ga?” Ronald menawariku sesuatu yang manarik
“Mmmmmmm…………….
“Udah! Jangan kebanyakan mmmmmmmmm!” Ronald menarik tangan ku memasuki mobilnya dan menuju sebuah café. Sejak saat itu aku dan Ronald menjadi sangat dekat.
Dan saat aku semester dua Ronald menyatakan cintanya padaku. Aku sangat senang, yang ku rasakan saat itu adalah semua dedaunan di taman kota berguguran dan bersatu membentuk gambar hati di hadapanku. Dan di terpa angin hingga kembali menerbangkannya ke dahan ranting yang gundul.
Tapi bagaiman dengan nasib Aunty. Di saat aku bermalam minggu di rumah bersama Ronald, nonton, bahkan saat hangout bersama ronal selama itu Aunty hanya menikmati nya sendiri.
Suatu hari yang tak terduga Aunty memintaku untuk menemaninya shopping ke mall. Tentu saja aku mau mengikuti keinginan Aunty. Karna pasti nanti Aunty Melly membelikan ku baju baru. Sesampai di mall. Tanpa sengaja aku bertemu dengan Ronald.
Aku datangi Ronald yang seperti nya sedang menunggui seseorang.
“Kak……….”sapaku. dan sedikit membuat Ronald kaget.
“Tasya?” ucap nya heran.
“Kakak ngapaen? Ayoh……lagi sama siapa??” ucapku menggoda.
“Sama papa sya…..” balasnya sambil menunjuk ke arah seorang bapak yang masih sangat terlihat muda sedang memilih jas di sebuah butik.
“Wah kebetulan, kita makan bareng yok kak, aku bareng Aunty melly loh.” Ku tawari Ronald makan malam bersama.
“Mana Aunty kamu?” Tanya Ronald sambil matanya mengamati sekitar mencari keberadaan Aunty.
“Biasa di toko buku. Aku panggil dulu ya kak. Kakak di sini ajah.” Perintahku
Ronald hanya mengangguk dan mengikuti langkahku. Bebarapa saat kemudian dari kejauhan aku melihat Ronald sudah bersama papanya. Om Tommy. Sejak mama Ronald meninggal beberapa tahun yang lalu om Tommy menjadi orang tua tunggal buat Ronald.
Terlihat exspresi kaget di wajah Aunty dan juga Om Tommy
“Mas Tommy?”
“Melly?”
“Hah……..Om udah kenal Aunty?” Tanya ku sedikit heran.
Jadilah makan malam tak terduga itu menjadi ajang reunion antara senior dan dan junior antara Aunty Melly dan Om tommy. Baru kali ini ku lihat senyum terindah dari wajah Aunty sejak kehilangan Langit. Apa mungkin dulu saat Aunty kuliah mereka adalah sepasang kekasih? Tapi tak butuh lama untuk mencari tau jawaban dari pertanyaan itu. Malam itu Aunty dengan wajah merah merona menceritakan perihal kedekannya dengan Om Tommy semasa kuliah.
Aunty mulai bercerita “Dulu Om Tommy itu senior Aunty, Dia Ketua BEM juga loh sama kaya Ronald. Trus dulu Om Tommy itu juga suka ama Aunty tapi Aunty tolak, karna dulu Om Tommy itu cupu. Tapi sekarang keren ya?”
Aku hanya membiakan Aunty berbagi kesenangan mengenang masa kuliahnya.
“Trus Aunty?” pintaku lagi agar Aunty meneruskan cerita nostalgianya.
Aunty mulai bercerita lagi
“ Ya gitu….cinta Om Tommy ga kesampaian sama Aunty.” Lanjutnya sambil tersenyum lebar dan memejamkan mata.
Beberapa bulan setelah itu
Terdengar suara telfon di ruang keluarga
“Hallow?”
“”Sya………papa kakak mau ngelamar Aunty malam ini?”
Rasa kagetku melebihi kaget ku saat Ronald mengutarakan cinta setahun yang lalu. Ternyata Aunty diam diam sudah bercerita kepada mama. Dan rencananya 2minggu lagi mama pulang ke Indonesia untuk meresmikan acara pernikahan Aunty Melly dan Om Tommy. Aku sangat senang. Ternyata Aunty merangkap calon mertua untukku. Ronald juga senang karna telah menemukan pengganti mamanya.
Dan sepertinya isi journal Aunty sejak saat itu hanyalah bercerita tentang kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar